Kamis, 09 Mei 2013

Ulasan Filsafat Seni (buku filsafat seni, Jakob Sumarjo.)

FILSAFAT SENI


1.      Agama, seni, filsafat dan Ilmu sebagai lembaga kebenaran
Manusia dilahirkan dengan berbagai bekal seperti fisik maupun non fisik yang melebihi berbagai mahluk lainnya di muka bumi. Akal dan fikiran merupakan salah satu karunia yang tak terhingga nilainya bila dibandingkan dengan mahluk lainnya. Akal adalah salah satu lembaga bagi manusia untuk menemukan kebenaran yang dapat menjadi pedoman bertindak dalam menjalani kehidupan. Selain akal terdapat berbagai lembaga lain yang selalu menjadi titik tolak manusia dalam menemukan kebenaran, lembaga lain tersebut adalah, agama, seni, dan ilmu pengetahuan.
Menurut Jakob Sumardjo, kebenaran bukanlah sesuatu yang ada dalam kesadaran kita sejak lahir. Kesadaran terhadap kebenaran harus dicari oleh setiap manusia, manusia yang memiliki tanggungjawab terhadap hidupnya dan hidup orang lain tentu memerlukan kebenaran. Kebenaran terus dicari sampai seseorang menyatakan setuju terhadap apa yang ditemukannya, (Jakob Sumardjo, 2000 : 3)

Agama
Secara historis, agama atau system kepercayaan merupakan lembaga kebenaran yang paling tua, dasar agama adalah kepercayaan. Manusia percaya kepada agama sebagai kebenaran mutlak yang harus dipatuhi secara mutlak pula. Hidup manusia diabdikan pada kepercayaan itu. Apa yang dipercaya dalam agama bersifat adikodrati, melampaui kodrat manusia itu sendiri. Agama sebagai lembaga kebenaran mengajarkan kesadaran terhadap apa yang seharusnya dilakukan manusia agar dia hidup damai, harmonis, dan selamat, baik di dunia maupun di akhirat. Kebenaran agama mutlak bagi para pemeluknya, walaupun kadang-kadang kebenaran agama tersebut dianggap tidak sesuai dengan kebenaran berdasarkan pengalaman inderawi dan nalar.

Seni
Perasaan dan intuisi merupakan alat bagi seni dalam menemukan kebenaran yang paling mendasar, universal dan abadi. Dasarnya adalah pengalaman inderawi manusia yang bersifat subjektif, kebenaran pengalaman perasaan intuitif manusia ini hanya dapat dihayati dan dirasakan, dalam penghayatan itulah manusia menyentuh suatu kebenaran yang tak kuasa dijelaskan. Kualitas perasaan tersebut harus dialami sendiri oleh manusianya sehingga ia mampu menemukan kebenarannya. Oleh sebab itu Jakob Sumardjo menganggap bahwa seni erat kaitannya dengan agama dalam hal kebenaran, sebab kehadiran sesuatu yang transendental (bukan dari dunia ini yang dipercayai) dalam suatu kepercayaan dapat ditemukan dalam seni. Seni tari, seni music, seni teater, seni sastra, dan seni rupa erat kaitannya dengan manusia purba yang sering melakukan upacara-upacara kepercayaan yang menghadirkan dunia gaib melalui peristiwa kesenian. Hal tersebut terjadi karena seni bertujuan menciptakan suatu realitas baru dari kenyataan pengalaman nyata. Bentuk seni itu sendiri adalah realitas yang dihayati secara inderawi. Dengan demikian, kebenaran seni bersinggungan dengan kebenaran empiris dan kebenaran ide. Dasarnya adalah pengalaman empiris manusia, tetapi yang ditemukannya adalah realitas baru yang non-empiris.

Filsafat
Alatnya adalah nalar, logika manusia yang bersifat spekulatif (bukan empiric), dan tak ada metode yang baku. Tujuannya adalah mencapai kebenaran yang sifatnya mendasar dan menyeluruh dalam system konseptual. Kegunaannya adalah kearifan hidup. Ciri-ciri lembaga kebenaran filsafat adalah, konseptual, logis, universal, mendasar, menyeluruh, mutlak, dan langgeng. Secara historis lembaga kebenaran ini telah dimulai sejak zaman Yunani Kuno, India Kuno, Cina Kuno, dan dijumpai di berbagai pusat peradaban purba manusia.

Ilmu
Alat untuk menemukan kebenarannya adalah nalar, logika, bermetode, dan sistematik. Sumbernya bersifat empiric, fakta apa adanya. Tujuannya adalah pembuktian kebenaran secara khusus dan terbatas. Kegunaannya sebagai deskripsi prediksi dan kontrol atas kenyataan empiris. Lembaga ilmu baru berkembang pesat sejak masa renaissans Eropa pada abad ke-16.


2.      Unsur-unsur filsafat seni
Menurut Jakob Sumardjo (2000: 29), Filsafat seni yang merupakan bagian dari estetika modern, tidak hanya mempersoalkan karya seni atau benda seni (hasil atau produk), tetapi juga aktifitas manusia atas produk tersebut, baik keterlibatannya dalam proses produksi maupun caranya mengevaluasi dan menggunakan produk tersebut. Ada tiga pokok persoalan filsafat seni, yakni seniman atau kreator sebagai penghasil seni, karya seni atau benda seni, dan penikmat seni atau apresiator. Antara seniman dan public seni muncul konteks budaya seni, sedangkan dari unsure benda seni muncul persoalan nilai seni dan pengalaman seni. Secara lebih lengkap akan dijelaskan berikutnya.

Seniman
Setiap karya seni muncul dari seorang seniman, apakah karya seni itu berbobot, kurang berbobot, atau seni kelas bawah pasti muncul dari seorang seniman. Beberapa persoalan yang sering muncul terkait seniman dengan karyanya adalah kreatifitas dan ekspresi. Apakah yang dimaksud kreatifitas? Apa pula yang dimaksud dengan ekspresi? Dan apa bedanya dengan refresentasi? Bagaimana masalah gender dalam berkesenian? Apa bedanya seniman dengan pengrajin, tukang, dan desainer? Bagaimana pribadi seniman tampak dalam karyanya yang menimbulkan beragam gaya, dan aliran dalam seni? Seniman menekankan pada aspek ekspresi, kreasi, orisinalitas, intuisi, imajinasi, ide, konsep, keterampilan dan referensi.

Karya Seni/Benda Seni
Karya seni adalah hasil proses kreasi seniman berwujud visual dua dimensi maupun tiga dimensi (Seni rupa, patung, lukis, desain, arsitektur), wujud audio (music dan sastra), audio visual (Film, teater, seni tari) yang dapat dinikmati atau diapresiasi melalui berbagai indra yang dimiliki oleh manusia. Benda seni atau karya seni terkait erat dengan medium atau bahan yang digunakan dalam menciptakan karya seni tersebut. Beberapa pertanyaan yang biasa muncul terkait karya atau benda seni adalah apakah akrya seni merupakan peniruan kenyataan (istilah Plato mimesis) atau merupakan ekspresi jiwa seniman. Persoalan subjektifitas dalam seni (ekspresi) dan objektifitas (mimesis) berlangsung di lingkungan penciptaan (seniman). Persoalan lainnya adalah seni tinggi dan seni rendah, seni eksklusif dan seni pinggiran, istilah Sanento Yuliman “seni rupa bawah dan seni rupa atas” Karya seni atau benda seni menekankan pentingnya aspek bentuk, material, struktur, symbol, dan estetika.

Publik Seni/Apresioator
Publik seni adalah masyarakat luas yang berasal dari latar belakang social dan ekonomi berbeda. Publik seni penting sebab seni bukan hanya masalah seniman dan karya seninya, melainkan bagaimana karya seni dapat berkomunikasi atau berdialog dengan orang lain. Agar karya seni dapat berdialog secara baik dengan masyarakatnya, maka diperlukan seorang curator atau kritikus yang menjelaskan secara lebih obyektif tentang struktur estetika dan makna sebuah karya seni.
Seorang seniman disebut seniman oleh masyarakatnya sebab status yang diperjuangkannya. Walaupun tidak seluruh masyarakat dapat diklaim sebagai public seni, namun sebagian besar masyarakat yang pernah dan berkeinginan menikmati karya seni dapat menjadi bagian dari public seni. Publik seni tertentu seperti kolektor dan para konsumen seni sangat berperan dalam menentukan status dan kelas dari seorang seniman. Publik seni menekankan pada aspek apresiasi, interpretasi, evaluasi, konteks, pengalaman, pengetahuan, penghargaan, dan respon dari public.


3.      Pengertian Filsafat dan Seni
Clive Bell, seorang filsuf seni klasik modern, seni adalah significant form (bentuk bermakna), menurutnya, semua system estetik dimulai dari pengalaman pribadi subjek tentang terjadinya emosi yang khas, ketika sesoorang melihat karya seni (seni lukis), dalam dirinya akan timbul suatu perasaan atau emosi yang khas, yang tidak sama dengan dengan perasaan sehari-hari kita seperti marah, sedih, gembira, mulia, dll. Perasaan khas tersebut disebut emosi estetik yang muncul dari penangkapan atas struktur estetika karya seni. Leo Tolstoi (1828-1910) Sastrawan Rusia terkemuka
Menurut Prof. Dr. Sudjoko, dalam bahasa jawa dikenal kata kagunan atau pakaryan yang menunjuk pada kata seni. Kamus Belanda-Melayu susunan Klinkert, seni alias kunst mempunyai pengertian khidmat, ilmu, pengetahuan, kepandaian, dan ketukangan.

PERTEMUAN IV
4.      Seni sebagai ekspresi
Sering kita mendengar istilah seni sebagai media ekspresi, apa yang dimaksud dengan ekspresi ? serta bagaimana seorang seniman mengekspresikan perasaannya dalam karya seni?. Ekspresi adalah sesuatu yang dikeluarkan, seperti cairan gula yang dikeluarkan oleh tebu yang diperas, tindakan mengamuk yang dilakukan sesoorang yang ditekan perasaan marah, atau sikap memeluk dan membelai yang dikeluarkan oleh dua insan yang dilanda gejolak cinta.
Dalam seni, perasaan harus dikuasai terlebih dahulu sebelum diekspresikan dalam wujud karya. Perasaan harus dijadikan objek, diatur, dikelola, dan diendapkan sebelum diwujudkan atau diekspresikan dalam bentuk karya seni.
Darimana sumber perasaan yang diekspresikan muncul? Perasaan merupakan respon individu terhadap sesuatu diluar dirinya, yakni lingkungan sekitarnya, persaan juga bersumber dari gagasan dan ide individu seorang seniman. Untuk mengekspresikan perasaan tersebut diperlukan keterampilan seniman dalam mengolah media untuk mewujudkan ekspresi tersebut secara lebih sempurna, semakin tinggi keterampilan seniman maka semakin sempurna pula kualitas perasaan yang diekspresikan tersebut, dan semakin tinggi kualitas ekspresi perasaan akan menjadikan bobot karya seni yang dihasilkan juga semakin tinggi.
Karya seni lahir karena ada seniman yang menghadirkan karya tersebut. Menurut Jacob Sumardjo (2000:79), Karya seni adalah kerja yang serius, sama seriusnya dengan ilmuwan mencari kenyataan baru dari gejala alam. Perlu ada kerja keras, pengamatan data, butuh ketajaman intuisi dalam melihat kebenaran dibalik permukaan, perlu penguasaan tekni seni yang tinggi dan cerdas, agar dapat menghasilkan karya seni yang yang berkualitas, baik mimesis maupun imajinatif idealis. Cara memandang dunia boleh berbeda, cara mencari kebenaran boleh berbeda, tetapi tetap dituntut adanya karya yang memberikan sumbangan terhadap peningkatan kualitas hidup manusia.

5.      Seni sebagai benda
Dalam seni rupa, penggolongan seni secara umum dibagi dua, seni murni (pure art/fine art) dan seni pakai (apllied Art). Pure Art atau seni murni adalah seni yang diciptakan semata-mata untuk dinikmati estetika dan keindahannya, misalnya lukisan, patung, seni grafis, seni pahat, seni music, seni balet dan beragam seni lainnya yang dibuat tanpa adanya unsure fungsional yang langsung berhubungan dengan fisik manusia. Jenis seni seperti ini pada saman yunani romawi digolongkan sebagai seni halus atau istilah Sanento Yuliman sebagai seni rupa atas. Menurut Jakob Sumardjo seni semacam ini digolongkan sebagai seni besar (major art) sebab dianggap sebagai seni bagi kaum yang merdeka. Para pencipta dari jenis seni inilah yang diklaim sebagai seniman.
Sedangkan applied art atau seni pakai adalah seni yang diciptakan dengan tujuan agar memiliki fungsi secara langsung bagi kehidupan manusia, disamping itu juga memiliki estetika sebagai penunjang. Sebagian karya Applied art kemudian berkembang dengan istilah desain, dimana tuntutan kebutuhan masyarakat atas jenis seni ini yang semakin tinggi sehingga aspek komersialisasinya dapat memberi jaminan kesejahteraan yang lebih baik bagi para kreatornya atau desainernya. Karya-karya seni applied art seperti mebel, tapestry, batik, busana, kerajinan souvenir, keramik, kriya, desain interior, desain produk, desain grafis, dan aneka desain lainnya. Para creator atau pencipta seni ini lebih sering disebut sebagai tukang, pengrajin, atau desainer.

6.      Seni sebagai nilai
Secara subjektif seni yang bernilai sangat relatif, tergantung kecenderungan selera masing-masing penikmat. Sesoorang dari kampung atau desa yang setiap hari mendengar music dangdut tentunya menganggap music dangdut lebih bernilai dibanding music jazz atau music rock, atau menilai lukisan pemandangan yang cantik dengan gunung, matahari, laut, dan pohon kelapa di dalamnya jauh lebih bernilai dibanding lukisan ekspresionisnya Affandi, atau lukisan surealisnya Salvador Dali. Demikian pula sebaliknya, ketika orang kota dari kalangan ekonomi atas tentunya memiliki selera berbeda dalam memandang sebuah karya seni yang bernilai tinggi dan karya seni bernilai rendah.
Nilai adalah esensi, pokok yang mendasar, yang akhirnya dapat menjadi dasar-dasar normatife. Ini diperoleh lewat pemikiran murni secara spekulatif atau lewat pendidikan nilai. Nilai sebagai esensi, dalam seni dapat masuk ke dalam aspek intrinsik seni, yaitu struktur bentuk seni. Tetapi juga dapat masuk dalam aspek ekstrinsiknya berupa nilai dasar agama, moral, social, psikologi, dan politik.
Menurut Jacob sumardjo (2000:142) Seni adalah masalah nilai. Dan nilai adalah masalah mendasar yang bias ditemukan dalam bidang etika (kebaikan), kebenaran (logika), dan estetika (keindahan), disamping keadilan, kebahagiaan, kegembiraan. Semua hal itu menyangkut subyejtifitas dan objektifitas sekaligus, menyangkut hal-hal khusus dan universal, budaya kontekstual dan esensi universal.
Nilai-nilai dasar dalam seni menurut Jacob Sumardjo (2000:140)
Nilai penampilan (appearance), atau nilai wujud yang melahirkan benda seni. Nilai ini terdiri dari nilai bentuk dan nilai struktur
Nilai isi (content), terdiri atas nilai pengetahuan, nilai rasa, intuisi atau bawah sadar manusia, nilai gagasan, dan nilai pesan atau nilai hidup (values) yang dapat terdiri atas nilai moral, nilai social, nilai religi, dll.
Nilai pengungkapan (presentation) yang dapat menunjukkan adanya bakat pribadi sesoorang, nilai keterampilan, dan nilai medium yang dipakainya. Semua dasar-dasar nilai tersebut menyatu padu dalam wujud seni dan tak terpisahkan, hanya dapat dibedakan bagi kepentingan analisis seni oleh para kritikus.


7.      Seni sebagai pengalaman
Secara sederhana, pengalaman adalah sesuatu yang pernah dialami, atau peristiwa yang telah dilalui dalam kurung waktu tertentu, dalam hal ini suatu pengalaman memiliki awal dan akhir namun dapat menciptakan suatu kesatuan yang utuh.
Pengalaman sangat besar peranannya dalam membentuk karakter dan paradigm sesoorang dalam bersikap, bertindak maupun dalam mengapresiasi karya seni. Dalam hal ini ada pepatah bijak mengatakan pengalaman adalah guru yang terbaik (experience is the best teacher). Sebuah perusahaan periklanan lebih menyukai desainer grafis yang berpengalaman dibanding desainer pemula, dan sebagian besar lowongan kerja untuk perusahaan swasta selalu mencantumkan kata-kata “diutamakan bagi yang berpengalaman dalam bidangnya”. Dalam memandang karya seni yang sama bias menimbulkan beragam perbedaan disebabkan pengalaman yang dimiliki para penanggap seni tersebut juga berbeda. Dalam hal seni, asumsinya adalah semakin banyak pengalaman seni sesoorang maka kualitas apresiasi terhadap karya senipun akan semakin tinggi, dan semakin kurang pengalaman seninya maka kualitas apresiasinyapun cenderung lebih rendah. Yang jelas seluruh manusia dapat dipastikan memiliki pengalaman seninya masing-masing.
Dalam ilmu seni, pengalaman dengan benda seni dinamai pengalaman seni atau pengalaman estetik atau respon estetik. Istilah ini biasanya dibicarakan dalam hubungannya dengan penikmat seni. Pengalaman seni adalah pengalaman yang dialami oleh penikmat seni atau penanggap seni. Seperti dalam pengalaman sehari-hari, maka pengalaman seni juga merupakan suatu pengalaman utuh yang melibatkan perasaan, pikiran, penginderaan, dan berbagai intuisi manusia.
Terjadinya pengalaman seni terhadap sebuah benda seni sangat bergantung pada penanggap seni tersebut. Pengalaman seni, atau seni itu sendiri, sebenarnya ada dalam diri sipenanggap, bukan pada benda seni tersebut. Seni terdapat dalam relung-relun jiwa setiap orang, jiwa seni setiap orang terbangkitkan oleh rancangan benda seni. Oleh sebab itu seorang ahli estetetika Beneditto Croce mengatakan bahwa benda seni itu tak ada, yang ada adalah pengalaman seni yang terdapat dalam jiwa para penanggap seni. Dengan demikian, pengalaman seni baru terjadi kalau penanggap aktif membangun atau menciptakan sendiri pengalamannya terhadap benda seni.

8.      Publik Seni
Publik seni adalah salah satu bagian yang tak terpisahkan dengan pokok-pokok seni, dalam hal ini public seni memiliki peran penting dalam menentukan arah perkembangan seni dari suatu bangsa. Semakin tinggi apresiasi seluruh public seni dalam bangsa tersebut maka perkembangan seninyapun bisa mencapai taraf yang tinggi, namun sebaliknya, bila public seni tidak memiliki apresiasi yang baik terhadap karya seni bangsanya akan menjadikan karya seni sebuah bangsa semakin terasing dan terpinggirkan.
Kenyataan yang tak bisa dipungikiri adalah disebagian Negara-negara berkembang seperti Indonesia public seninya masih memiliki apresiasi yang dangkal terhadap seni sehingga seni bukannya berkembang dengan baik, melainkan stagnan, bahkan jenis-jenis seni tradisional tertentu perlahan-lahan punah, sementara sebagian yang lainnya semakin terpinggirkan.
Menurut Jakob Sumardjo (2000:198) mengatakan bahwa perhatian kaum terpelajar Indonesia terhadap kesenian bangsanya masih amat tipis. Kesenian belum menjadi bagian dari kecendekiawanannya. Kesenian masih diletakkan fungsinya sebagai rekreasi semata, sesuatu untuk bersenang-senang sesaat. Kesenian dipandang tak lain hanya hiburan. Barang konsumsi yang kedudukannya sama dengan keahlian sulap David Cofferfield.
Kesenian tidak dianggap sebagai produk pemikiran manusia Indonesia dalam menghadapi berbagai tantangan hidupnya. Bahwa kesenian yang baik bagi kaum terpelajar nilainya sama dengan karya keilmuwan dan filsafat. Tidaklah heran apabila penggemar filsafat di Indonesia merupakan salah satu apresiator kesenian, baik karya seni asing yang mondial maupun yang nasional. Tapi, amat sedikit minat kaum ilmuwan, professional, dan birokrat terhadap kesenian.

9.      Komunikasi Seni
Jacob Sumardjo (2000:214) mengatakan bahwa karya seni diciptakan untuk orang lain, sehingga karya tersebut baru benar-benar menjadi karya seni kalau ada penanggap yang mampu memperoleh pengalaman seni dari karya tersebut. Dengan demikian, factor keterkaitan antara objek seni dan subjek penanggap amat menentukan munculnya nilai seni.
Dari pendapat Sumardjo tersebut menggambarkan bahwa seniman dalam berkarya seni selalu didasari oleh nilai-nilai tertentu yang bukan hanya sekedar ingin diekspresikan semata, melainkan lebih dari itu adalah untuk dikomunikasikan pada orang lain. Dalam hal ini fungsi seni selain sebagai media ekspresi juga merupakan media komunikasi antara seniman dengan masyarakat atau public seni.
Ketika seorang penanggap menyaksikan karya seni, terjadi proses pembentukan pengalaman seni. Pengalaman seni tersebut berlangsung dalam waktu. Selama waktu tertentu tersebutlah terjadi peleburan diri penanggap seni ke dalam karya seni. Peleburan ini melibatkan berbagai indra yang dimiliki dan diikuti oleh aspek kejiwaan sesoorang. Perasaan, pikiran, intuisi, dan alam bawah sadarnya tergerak dalam menanggapi karya seni yang disaksikan. Dalam mengapresiasi karya seni tersebut, public seni sering mengalami perasaan yang sama terhadap suatu karya tertentu, namun kadang-kadang para penanggap seni tersebut juga berbeda persepsi dan perasaan ketika menyaksikan sebuah karya seni, hal ini disebabkan konteks latar belakang budaya masing-masing penanggap yang berbeda pula.

10.  Seni dalam konteks moral
Jacob Sumardjo (2000:246) menggolongkan persoalan seni dalam hubungannya dengan karya seni dalam tiga persoalan, yakni, (1) apakah moralitas seniman ada hubungannya dengan karya seninya; (2) apakah karya seni itu sendiri harus mengandung moral; (3) apakah karya seni dapat dijadikan penuntun moral bagi masyarakatnya.
Pertanyaan pertama adalah, apakah karya seni yang mengandung nilai moral tinggi juga harus dibuat oleh seniman bermoral tinggi?. Dalam berbagai kenyataan banyak karya-karya seni yang mengandung nilai moral tinggi, namun dibuat oleh seorang seniman yang moralnya berada dibawah standar moral rata-rata masyarakat. Dalam hal ini seniman tidak dapat dituntut untuk memiliki moral yang sepadan dengan karyanya, sebab kadang-kadang seniman dengan latar belakang hidup yang rapuh, tidak karuan, dapat menghasilkan sebuah karya seni yang bernilai moral tinggi. Seniman bukanlah nabi. Malaikat, ataupun guru moral, tapi seniman dapat mengungkapkan nilai-nilai moral dalam berbagai karyanya, walaupun kadang-kadang nilai-nilai moral yang disampaikannya itupun bertentangan dengan perilaku dan gaya hidupnya.
Seniman hanya dapat dituntunt segi moralnya dalam konteks kejujurannya dalam berkarya, dia jujur pada dirinya dalam berkarya, otentik, asli, tidak menjiplak, tidak mengakui karya orang lain sebagai karyanya, dan tidak mencuri ide orang lain, maka seniman seperti inilah yang dianggap sebagai seniman yang bermoral. Jadi kita kita tidak bisa menuntut seniman harus bersih dari dosa-dosa seperti seks, narkoba, minuman keras, dan dosa-dosa lainnya, sebab banyak seniman kelas dunia yang memiliki karya dipuja, namun kehidupan seksnya dan keluarganya kurang beres. Ada pepatah mengatakan bahwa ‘mutiara itu tetap mutiara meskipun keluar dari mulut seekor anjing.

11.  Seni dan Ilmu pengetahuan
No Seni Ilmu Pengetahuan
1 Penghayatan dalam struktur pengalaman estetis Pemahaman rasional-empiris terhadap suatu objek ilmu
2 Penciptaan Penemuan
3 Menghasilkan sesuatu yang belum ada menjadi ada Selalu berdasarkan pada apa yang sudah ada
4 Pendekatan seni mengarah pada lubuk batin manusia, disudut-sudutnya yang tersembunyi dan rahasia Pendekatan menggunakan perangkat intelegensia, analisis, dan pengamatan terhadap dunia material
5 Menghadirkan kualitas pengalaman yang unik dan spesifik, seperti kesepian, penderitaan, kemuliaan, dll. Segala sesuatu diukur secara kuantitatif, terukur dalam parameter tertentu
6 Seni adalah perenungan, kontemplasi bathin setelah melihat realita di luar dirinya, Observasi, pengamatan, yang berjarak antara subjek manusia dengan objeknya
7 Transenden Imanen
8 Rohaniah, spiritual Material dan duniawi
9 Objek seni adalah adalah karakter sebuah kualitas yang selalu bersifat individual, unik, bebas, spontan dan ajaib, penuh peona kejutan, sesuatu yang segar dan baru, seolah-olah bari dari ketiadaan Objek ilmu adalah kenyataan alam dan non-alam, sehingga muncul keseragaman, homogenitas, identitas, dan kausalitas

Seni bukanlah ilmu, tetapi, karya seni dapat menjadi objek ilmu pengetahuan. Semua hal di dunia ini dapat ditelaah secara ilmiah. Ilmu dapat meletakkan karya seni sebagai objek pengamatannya. Karya seni dalam ilmu bukan untuk dihayati, melainkan untuk dipahami secara rasional. Pemahaman terhadap karya seni tersebut akan membantu dalam menghayati karya seni tersebut. Jadi, ilmu-ilmu seni adalah alat bantu manusia untuk dapat lebih mendalami penghayatan karya seni. Ilmu-ilmu seni akan membantu menunjukkan kandungan nilai dalam sebuah karya seni. Nilai yang ditunjukkan oleh ilmu tersebut dapat mengarahkan si penghayat seni dalam membangun relasi dan empati terhadap karya seni
Seni bukan ilmu. Seorang seniman tidak bisa memperlakukan kreatifitasnya sebagaimana seorang ilmuwan memperlakukan ilmu. Dia harus bersikap sebagai seorang seniman, sang pencipta yang memberi pencerahan dan pengayaan atas benda. Ilmu-ilmu seni berkewajiban membantu orang dalam mencapai penghayatan tersebut. Ini bukan berarti penanggap seni harus belajar ilmu seni. Ilmu seni hanya merupakan upaya penjelasan agar lebih mudah memahami. Tanpa ilmu senipun, seorang penanggap akan mampu menghayati karya seni secara mendalam, terutama berdasarkan pengalamannya dalam menghayati berbagai karya seni. Padanya akan tumbuh suatu naluri yang peka terhadap penghayatan karya seni. Hanya saja kalau diminta penjelasan mengapa sebuah karya seni itu istimewa nilainya, dia tidak mampu menjelaskan secara ilmiah.
Ilmu seni tidak mungkin menggantikan kedudukan karya seni, bagaimanapun canggihnya analisis seorang kritikus seni, tak mungkin menimbulkan penghayatan terhadap karya seni. Setelah membaca kritik seni (ilmu seni), para penghayat diharapkan dapat lebih siap dalam menghadapi karya seni yang dikritik.

12.  Tinjauan Estetika dan Seni
Pembicaraan estetika sebenarnya sangat luas, bilai kita urai berdasarkan konteks sejarahnya, maka estetika dapat dibagi menjadi beberapa, diantaranya adalah; estetika klasik (Graeco-Roman), Estetika abad pertengahan, estetika renaisans, estetika pencerahan, estetika romantic, estetika positivism dan naturalisme, estetika abad ke- 20, estetika kontemporer, sampai pada estetika postmodern.
Untuk menguraikan secara lengkap estetika berdasarkan uraian konteks sejarah tentunya tidak cukup hanya satu atau dua pertemuan tapi butuh waktu yang lebih banyak.Oleh sebab itu materi estetika hanya diuraikan secara garis besarnya saja.
Estetika dengan filsafat seni ibarat dua mata koin yang tidak dapat dipisahkan, bahkan beberapa pendapat menganggap bahwa estetika itu adalah filsafat seni sebab berbicara tentang ilmu dan teori keindahan, sementara keindahan yang dibicarakan adalah keindahan seni.

Plato (428-348 SM)
Sumber rasa keindahan adalah cinta kasih, karena ada cinta, maka manusia selalu ingin kembali menikmati apa yang dicintainya itu. Rasa cinta pada manusia ini bukan hanya tertuju pada keindahan, tetapi juga pada kebaikan (moral) dan kebenaran (ilmu pengetahuan).
Timbulnya rasa cinta pada keindahan adalah akibat pendidikan. Proses tertanamnya rasa cinta pada keindahan dapat diuraikan sebagai berikut :
• Pada awalnya orang dididik untuk mencintai keindahan nyata yang tunggal, misalnya keindahan tubuh seorang manusia
• Kemudian, dia dididik untuk mencintai keindahan tubuh yang lain, sehingga tertanam hakikat keindahan tubuh manusia
• Keindahan tubuh yang bersifat rohaniah itu lebih luhur daripada keindahan tubuh yang sifatnya jasmaniah
• Keindahan rohaniah dapat menuntun manusia mencintai segala yang bersifat rohani pula, misalnya ilmu pengetahuan
• Akhirnya, manusia harus dapat menangkap ide keindahan itu sendiri tanpa kaitan dengan yang bersifat jasmani

Dalam memberi karakteristik tentang keindahan, Aristoteles hampir sama dengan Plato. Keduanya menekankan adanya kesatuan dan harmoni. Adapun ciri-ciri lengkap keindahan, baik pada alam ,aupun pada karya seni, menurut Aristoteles adalah :
• Kesatuan atau keutuhan yang dapat menggambarkan kesempurnaan bentuk, tak ada yang berlebih atau berkurang. Sesuatu yang pas dank has adanya
• Harmoni atau keseimbangan antar-unsur yang proporsional, sesuai dengan ukurannya yang khas
• Kejernihan, segalanya memberi kesan kejelasan, terang, jernih, murni, tanpa ada keraguan


13.  Permasalahan Estetika di Indonesia
Permasalahan estetika di Indonesia agak rumit untuk di jelaskan secara focus berada pada fase apa dan gaya estetika apa yang mendominasi. Hal tersebut disebabkan oleh karena keragaman etnik, multikultur, dan campur aduknya berbagai faham, aliran, dan budaya yang terdapat di Indonesia. Budaya primitif yang masih bertahan hingga saat ini diberbagai pedalaman irian, berbaurnya antara tradisi, modernitas, dan postmodern diberbagai suku dan budaya di nusantara semakin mempersulit pemahaman terhadap estetika dominan yang dimiliki nusantara.
Hal ini disebabkan oleh karena disatu sisi cara berfikir kita adalah cara berfikir manusia modern, sementara di barat cara berfikir seperti ini telah punya sejarah panjang, sementara kita hanya menimba hasil pemikiran mereka untuk menghadapi tantangan hidup kita. Perkembangan pemikiran barat kita ikuti secara cermat dan kita seolah tak mau ketinggalan dalam memperoleh informasi paling actual dari pemikiran barat, terutama dalam hal ini bidang seni. Sementara disisi lain, sebagian besar masyarakat kita masih hidup dengan cara berfikir pramodern. Cara berfikir manusia Indonesia, khususnya yang kurang terpelajar, masih mengikuti cara berfikir nenek moyangnya. Apalagi dalam bidang seni, masih banyak produk seni yang kita warisi dari nenek moyang yang cara berfikirnya pramodern dan masih bertahan hingga saat ini, walaupun selalu terpinggirkan oleh system. Produk seni masa lampau yang masih hidup dalam masa kini adalah produk seni masyarakat nenek moyang kita yang budayanya masih dalam tahap mitis.
Menurut Jakob Sumardjo, Logika budaya mitis berbeda dengan logika budaya ontologis. Logika mitos dan dongen rakyat berbeda dengan logika novel modern. Dalam logika mitis, adalah wajar apabila keringat dewa yang menetes dari tubuhnya dapat menjelma menjadi seorang dewa, didunia sana, segalanya serba mungkin, sedangkan dunia manusia bersifat fana

Poskan Komentar