Rabu, 08 Mei 2013

RESUME BUKU DRAMATURGI A KARYA HARIMAWAN



           RESUME BUKU DRAMATURGI A KARYA HARIMAWAN
                                                          BAB I
                                     BEBERAPA PENGERTIAN
Arti Dramaturgi
Dramaturgi adalah ajaran tentang masalah hukum, dan konvensi drama. Kata drama berasal dari bahasa Yunani draomay yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, bereaksi, dan sebagainya: dan drama berarti: perbuatan, tindakan. Drama dapat berupa komedi (suka cerita) dan tragedi (duka cerita). Ada juga yang beranggapan drama merupakan sandiwara tragedi.

Arti drama

  1. Drama adalah kualitas komunikasi, situasi, action, (segala apa yang terlihat dalam pentas)
  2. Menurut moulton, drama adalah “hidup yang dilukiskan dengan gerak (life presented in action).
Menurut Brander Mathews: Konflik dari sifat manusia merupakan sumber pokok drama.
Menurut Ferdinand Verhagen: Drama haruslah merupakan kehendak manusia dengan action.
Menurut Baltazar Verhagen: Drama adalah kesenian melukiskan sikap manusia dengan gerak.
  1. Drama adalah cerita konflik manusia dalam bentuk dialog, yang diproyeksikan pada pentas dengan menggunakan percakapan dan action dihadapan penonton (audience).
  2.  
Arti teater
Secara etimologis teater adalah gudang pertunjukan (auditorium).
  • Dalam arti luas:
Teater adalah segala tontonan yang dipertunjukan didepan orang banyak.
Misalnya wayang orang, ketoprak, ludrug, srandul, memebai, randai, mayong,
arja, rangda, reog, lenong, dagelan, sulapan, akrobatik, dan sebagainya.
  • Dalam arti sempit:
Drama, kisah hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan oleh orang banyak, dengan media: percakapan, gerak dan laku, dengan atau tanpa dekor, didasarkan pada naskah yang tertulis dengan atau tanpa musik, nyanyian, tarian.
Arti drama – Sandiwara - Tonil
Pertunjukan drama disebut juga sandiwara. Kata sandiwara dibuat oleh P.K.G Mangkunegara VII almarhum sebagai kata pengganti toneel (bahasa Belanda). Sandiwara dibentuk dari bahasa jawa sandi dan wara. Sandi berartirahasia dan wara berarti pengajaran. Demikianlah menurut Ki Hadjar Dewantara, sandiwara adalah pengajaran yang dilakukan dengtan perlambang.
Formula Dramaturgi (4M)
Tugas dramaturgi mempelajari:
M1
Mengkhayalkan
Di sini untuk pertama kali pengarang mengkhayalkan kisah: ada inspirasi dan ide.
M2
Menuliskan
Pengarang menyusun kisah yang sama (the sean
idea) untuk kedua kalinya. Pengarang menulis kisah (story).
M3
Memainkan
Pelaku-pelaku memainkan kisah yang sama untuk ketiga kalinya (action). Di sini aktor dan aktris yang bertindak dalam stage tertentu.
M4
Menyaksikan
Penonton menyaksikan kisah untuk yang keempat kalinya.
BAB II
SEJARAH TEATER DI INDONESIA

Sejarah Naskah dan Pentas
  1. Sebelum abad ke-20
Tidak ada naskah dan pentas. Yang ada hanyalah naskah-naskah cerita rakyat dan kisah-kisah turun temurun disampaikan secara lisan oleh ayah kepada anak. Drama-drama rakyat, istana, keagamaan, di arena, di bawah atap, atau lapangan terbuka.
  1. Permulaan abad ke-20
Terpengaruh oleh drama Barat dan cara pemanggungannya (staging), timbul bentuk-bentuk drama baru: komidi stambul/istana/bangsawan, tonil, opera, wayang orang, ketoprak, ludruk, dan lain-lainnya. Tidak menggunakan naskah (improvisatoris), tetapi menggunakan pentas; panggungbnya berbingkai.
  1. Zaman Pujangga Baru
Muncul naskah drama asli yang dipakai oleh pementasan amatir. Rombongan professional tidak menggunakannya.
4. Zaman Jepang
Sensor Sendenbu sangat keras, diharuskan menggunakan naskah. Rombongan professional dipaksa belajar membaca. Perkumpulan amatir tidak kaget karena terdiri atas kaum pelajar.
5. Zaman Kini
Rombongan professional membuang naskah. Organisasi amatir tetap setia pada naskah, sayang sering mengabaikan pengarang, penyadur, atau penyalinnya.
Segi Bahasa
Komidi stambul dan bangsawan memakai bahasa Melayu karena dimengerti di kota-kota besar, dan juga karena alas an alas an komersial (perdagangan). Pujangga baru memakai bahasa Melayu/ Indonesia dengan sebab dan tujuan politik. Sekarang dipakai bahasa kesatuan Indonesia.
Segi Ideologi
Setiap pengutaraan pendapat adalah propaganda. Sejak dulu drama menjadi alat propaganda agama, susunan pemerintahan, pandangan hidup, dan lain-lain, tetapi tidak lepas dari manusia dan kemanusiaan, tidak terlepas dari zamannya.
Bentuk Teater di Indonesia
  1. Yang lahir di dalam lingkungan kehidupan desa
Kegiatannya terkait erat oleh persoalan kehidupan sehari-hari di dalam desa, yaitu adat atau agama. Contohnya terdapat pada kehidupan teater di Bali.

  1. Yang lahir di keraton
Pertunjukan dilaksanakan pada upacara-upacara tertentu, para pelakunya anggota keluarga bangsawan. Pertunjukan dilaksanakan hanya untuk kalangan ternatas. Tingkat artistic yang dipakai sangat tinggi. Cerita pada umumnya berkisar pada kehidupan kaum bangsawan yang dekan dengan para dewa dan sebagainya.

  1. Yang tumbuh di kota-kota

Kadang-kadang masih membawa bentuk-bentuk yang di desa atau di keraton. Lahir dari kebutuhan yang timbul dengan tumbuhnya kelompok-kelompok baru di dalam masyarakat dan sebagai produk dari kebutuhan baru, sebagai fenomena modern dalam seni pertunjukan di Indonesia.

  1. Yang diberi predikat modern atau kontemporer
Menampilkan peranan manusia bukan sebagai tipe, melainkan sebagai individu. Dalam dirinya terkandung potensi yang besar untuk tumbuh, saat ini merupakan golongan teater minoritas. Merupakan hasil pencarian manusia Indonesia yang dilakukan secara terus menerus.
BAB III
MASALAH DRAMATURGI
Bagian I: Drama dan Konflik Manusia
  1. Hukum drama
  1. Subjek
Lahit dan mati, lahir dan mati, kawin dan cerai, kejahatan dan hukuman, perang dan damai.
  1. Tema
Keberanian dan pengecut, kesetiaan dan pengkhianatan, keserakahan dan murah hati.
  1. Emosi
Kemarahan, cinta dan benci, ketakutan dan kenikmatan. Perhatian terhadap konflik adalah dasar dari drama. Protagonios adalah peran yang membawa ide prinsipil. Pertentangan diantara dua kekuatan (protagonis dan antagonis) mengakibatkan dramatic action.

  1. Sumber penulis drama ialah “Tabiat Manusia”
Yang harus di pelajari dalam tabiat manusia sebagai berikut:
  1. Pengarang
  2. Aktor/aktris
  3. Sutradara

  1. Kerangka drama adalah action
Konflik diwujudkan dengan action. Drama memerlukan action yang terbuka karena penonton hanya dapat menerima maksud berdasarkan action yang dilihat dan didengar. Action dapat membawa kehebatan (excitefull) dan daya tarik. Action merupakan kerangka drama.

  1. Dasar action adalah motifa
Sumber-sumber motif:

  1. Human driver (kegiatan, semangat, pendorong)
Merupakan kegiatan yang mengontrol suatu action atau kegiatan manusia; bersifat dinamik. Menurut W.I. Thomas ada empat macam kekuatan dasar:
  1. Kekuatan untuk tanggapan (response)
  2. Kekuatan untuk pengakuan
  3. Kekuatan untuk petualangan (adventure)
  4. Kekuatan untuk keamanan (security)
  1. Situasi: fisik dan sosial
Situasi fisik: Dua aspek situasi bisa menyebabkan action dan menunjukan sumbernya. Lakon/ play yang sadar akan motif yang timbul dari situasi fisik menempatkan peranan-peranannya terkurung, mengubah keaktivitetan motif secara logis balam mengekspresikan ide serta emosi yang dikehendaki.
Situasi sosial: Perbedaan dalam kesibukan merupakan hasil perbedaan ukuran sosial yang menentukan sikap di dalam dua tempat

  1. Interaksi sosial
Jika dua orang berbeda dalam kontak social langsung, yaitu bila mulai sadar terhadap satu sama lain, timbulah interaksi sosial.
  1. Pola watak (character pattern)
Kita mencoba memperoleh gambaran watak itu, masa lampaunya, pengalamanya, dan struktur psikisnya.
  1. Intelegensi
  2. Hubungannya dengan dunia luar
  3. Hubungannya dengan dirinya sendiri

Bagian II: Drama dan Pengarang
Drama merupakan kisah pertentangan yang saling beroposisi, di mana tiap kejadian dari kekuatan-kekuatan khusus action dapat diketahui pada tiap motif.
Dengan demikian maka drama didasarkan pada human conflict.
  1. Bahan-bahan untuk pengarang
  1. Karakter; untuk mengembangkan konflik.
  2. Situasi; lakon adalah rentetan situasi, dimulai dari situasi yang akan berkembang selama action terlaksana.
  3. Subjek; ide pokok lakon atau drama.
  1. Alat-alat pengarang
  1. Dialog; lewat dialog tergambarlah watak-watak sehingga latar belakang perwatakan bisa diketahui.
  2. Action; berbicara lebih kerasc dari pada kata-kata, karena to see to believe.
  1. Proses inspirasi yang merangsang daya cipta (MI & MII)
MI
Inspirasi dapat timbul:
  1. Sendiri karena pikiran kita menemukan suatu gagasan yang merangsang daya cipta.
  2. Karena perhatian kita tertuju pada suatu peristiwa baik yang disaksikan sendiri maupun yang didengar atau dibaca.
  3. Karena kehidupan kita terkait pada kehidupan seseorang.
MII
  1. Daya cipta tersebut diatas akan kita hidupkan ke dalam sebuah cerita.
  2. Maka terciptalah gambar yang masih mentah, belum teratur.
  3. Proses kristalisasi sehingga kita dapat berhasil merumuskan hakikat (intisari) cerita.
  4. Saat kita mendapat rumus intisari cerita premis.


  1. Proses mengarang (MII)

  1. Seleksi; dengan hati-hati pengarang memilih situasi yang harus memberikan saham bagi keseluruhan drama. Dalam kebanyakan lakon (play), merupakan kunci laku (action).
  2. Re-arrangement; pengarang enyusun kembali kekalutan hidup menjadi pola yang berarti.
  3. Intensifikasi; pengarang memiliki kisah untuk diceritakan, kesan untuk digambarkan, suasana hati untuk diciptakan.

  1. Komstruksi dramatic
Ide klasik dari Aristoteles

Dalam karyanya petics Aristoteles mengetengahkan antara lain teori, analisis, dan hukum puisi dan drama:
  1. Teori tentang komedi (suka cerita)
  2. Teori tentang tragedy (duka cerita)
  3. Hukum komposisi drama yang terdiri atas awal, tengah, dan akhir.
  4. Pengetahuan tentang trilogy Aristoteles; kesatuan tempat, kesatuan waktu, dan kesatuan kejadian.
  5.  
  1. Dramatic plot
Aristoteles (klasik)
I. Protasis:
Permulaan, dijelaskan peran
dan motif lakon.
II. Epitasio:
Jalinan kejadian
Gustav Freytag (modern)
- Exposition:
Pelukisan …………………………(1)
- Complication:
Dengan timbulnya kerumitan /
komplikasi diwujudkan jalinan
kejadian …………………………..(2)
III. Catastasis: - Climaks
Puncak laku, peristiwa mencapai titik kulminasinya; sejak 1-2-3
terdapat laku sedang memuncak (rising action)
……………………………………….(3)
- Resolution:
Penguraian, mulai tergambar
rahasia motif ……………………(3) A
IV. Catastrophe:
Penutupan
- Conclusion:
Simpulan …………………………(4)
- Catastrophe:
Bencana ………………………….(4) A
- Denouement:
Penyelesaian yang baik ……..(4) B
Ditarik kesimpulan, dan habis cerita.

  1. Trilogi Aristoteles
  1. Kesatuan waktu:
Peristiwa harus terjadi berturut-turut selama 24 jam selama satu selingan.
  1. Kesatuan tempat:
Peristiwa seluruhnya terjadi dalam satu tempat saja.
  1. Kesatuan kejadian:
Membatasi rentetan peristiwa yang berjalan erat, tidak menyimpanmg dari pokoknya. Sering disebut kesatuan ide.
Penjelasan Trilogi Aristoteles (The 3 Unites Aristoteles)
Kesalahpahaman sering terjadi terhadap penafsiran Trilogi Aristoteles: sebuah lakon harus hanya berlaku selama 24 jam (kesatuan waktu), tidak boleh ada pergantian adegan (scene) (kesatuan tempat), harus hanya mempunyai laku (plot) yang tunggal kesatuan kejadian).
Aristoteles sendiri tak pernah secara tegas mengemukakan hal itu semua, dan semua dan tak pula bermaksud agar aturanya itu dipakai sebagai dogma. Dia hanya akan menyelidiki bagaimana drama itu disusun, dan dikemukakannya dalam rangkaian komentarnya tentang kesusastraan masa itu, yaitu yang tercantum dalam serangkaian karangannya yang berjudul Poetics.
Tentang kesatuan waktu, yang berarti pembatasan waktu, teutama ditujukan kepada tragedi yang harus berbeda dengan epik, karena epik mempunyai kebebasan waktu, sedangkan tragedy waktunya harus segera dibatasi.
Tentang kesatuan tempat, dia tidak menyebutkan apa-apa. Meski demikian, pembatasan tempat yang sangat mengikat seperti drama pseudo klasik juga tak dapat dibenarkan. Yang jelas memang ada pembatasan dalam drama Yunani, seperti halnya kini, drama juga terkait oleh syarat-syarat pentas, tetapi kebebasan bisa terjadi.
Tentang kesatuan kejadian, terutama ditujukan pada tema dan plot. Tetapi drama Yunani sendiri sering meninggalkan aturan ini. Fakta yang menafsirkan bahwa drama harus mempunyai hanya satu tema dan satu plot saja, tetapi ada juga yang mengetengahkan adanya subplot atau minor action disamping plot utama sehingga merupakan plot majemuk, aasalkan semuanya membantu penyelesaian plot utama atau plot pokok kea rah satu catastrophe.
Shakespeare kadang-kadang menggunakan plot kembar dengan cara paralelisme. Yang penting ialah: harus ada persoalan pokok yang jelas, dan persoalan-persoalan lain mendapat kedudukan yang kurang penting.

  1. Tiga unsure prinsip dalam drama
  1. Unsur kesatuan
Unsur kesatuan mencakup kesatuan kejadian, kesatuan tempat dan kesatuan waktu.
  1. Unsur penghematan
Karena keterbatasan waktu, maka usahakanlah dalam waktu yang sesingkat itu dituangkan masalah-masalah pokok yang terpenting saja.
  1. Unsur keharusan psikis
Fungsi psikis dalam dramaturgi:
  1. Protagonis
Pemeran utama (pahlawan/cerita yang menjadi pusat cerita.
  1. Antagonis
Peran lawan, sering juga menjadi musuh yang menyebabkan konflik.
  1. Tritagonis:
Peran penengah, bertugas mendamaikan atau menjadi pengantara protagonis dan antagonis.
  1. Peran pembantu
Peran yang secara tidak langsung terlibat di dalam konflik, tetapi peran pembantu ini diperlukan guna penyelesaian cerita.
  1. Drama modern
Drama modern mendobrak hukum-hukum tersebut (Trilogi Aristoteles). Drama yang baik harus memiliki kegentingan (spaning). Ada dua macam kegentingan:
  1. Kegentingan karena hasrat ingin tahu bagaimana akhir cerita.
  2. Kegentingan identifikasi karena penonyon mengidentifikasikan diri secara emosional dengan peran bagaimana nasib mereka. Emosi tersebut antara lain emosi pelengkap dan emosi penyelamatan.
  1. Konstruksi cerita drama
  2.  
Naskah dan lakon
Naskah adalah bentuk/ rencana tertulis dalam cerita drama. Sedangkan
lakon adalah hasil perwujudan dari naskah yang dimainkan.
Komposisi tiga bahan pokok untuk cerita drama

1. Premise
Premise adalah rumusan intisari cerita sebagai landasan ideal dalam
menentukan arah tujuan ceritera.
2.Character
Bisa juga disebut tokoh, adalah bahan yang opaling aktif yang menjadi
bahan penggerak cerita. Karakter disini merupakan tokoh yang hidup.
Tiga dimensi character:
a. Dimensi fisiologis (cirri-ciri badan)
b. Dimensi sosiologis (latar belakang kemasyarakatan)
c. Dimensi Psikologis (latar belakang kejiwaan)
3. Plot
Plot ialah alur, rangka cerita, merupaka susunan empat bagian:
a. Protasis
b. Epitasio
c. Catastasis
d. Catastrope
BAB IV
SENI BERPERAN
Ikhtisar ajaran Richard Boleslavsky
Ajaran pertama: Konsentrasi atau pemusatan pikiran.
Aktor adalah seorang yang mengorbankan diri. Ia menghilangkan dirinya untuk
menjadi pemain (perannya). Agar actor menjadi sempurna dalam profesinya, ia
harus mengalamisuatu Pendidikan yang terdiri atas tiga bagian:
1. Pendidikan tubuh
Subjek-subjeknya:
a. Senam irama
b. Tari klasik dan pengutaraan
c. Main anggar
d. Berbagai latihan bernafas
e. Latihan menempatkan suara, diksi, bernyanyi
f. Pantomime
g. Tata rias
2. Pendidikan intelek dan kebudayaan
Subjek-subjeknya:
a. Pengetahuan perihal tokoh-tokoh teater seperti Shakespeare, Moliere,
Goethe, Calderon de La Barca; apa yang telah mereka perjuangkan danh
apa yang telah dilakukan orang diteater-teater dunia dalam mementaskan
karya-karya mereka.
b. Kesusastraan dunia pada umumnya; misalnya membedakan antara
Romantik Jerman dan Romantik Perancis.
c. Sejarah seni lukis, seni pahat, seni music; Bisa mengingat gaya setiap
kurun zaman dan tahu kepribadian setiap pelukis besar.
d. Psikologi, memahami psikoanalisis, pernyataan emosi, logika, perasaan.
e. Anatomi tubuh manusia, ciptaan besar seni pahat.
3. Pendidikan dan latihan sukma
Subjek-subjeknya:
a. Penguasaan seluruh panca indera dalam situasi yang dapat dibayangkan.
b. Penumbuhan ingatan perasaan, ingatan ilham atau penembusan
pengkhayalan itu sendiri, penumbuhan naivitas, penumbuhan daya untuk
mengamati, penumbuhan kekuatan kemampuan, penumbuhan untuk
menambahkan keragaman pada pernyataan emosi, penumbuhan rasa pada
humor dan tragedy.
c. Penumbuhan ingatan visual.
Ajaran kedua: Ingatan emosi
Aktor harus berlatih mengingat-ingat segala emosi yang terpendam dan halamanhalaman
sejarah yang telah silam. Boleslavsky member nasehat kepada actor
sebagai berikut:
· Perhatikan dan lihat apa yang ada disekitarmu – pandang dirimu dengan
penuh kegembiraan.
· Kumpulkan dan simpan dalam jiwamu semua kekayaan dan kepenuhan
hidup.
· Simpan dan susun ingatan dan kenangan ini.
· Siapa tahu suatu hari mereka kita perlukan.
· Mereka adalah satu-swatunya sahabat dan guru dalam karyamu.
· Mereka adalah cat dank was bagi actor, seandainya actor itu adalah
seorang pelukis.
· Dan mereka akan membawakan hadiah bagimu.
· Mereka adalah kepunyaanmu milikmu sendiri.
· Mereka bukan tiruan, dan mereka akan memberikan pengalaman,
ketelitian, ekonomi, dan kekuatan padamu.
Ajaran ketiga: Laku dramatis



BAB V
MASALAH PERMAINAN
1. Unsur Permainan dalam Drama
Teori sumber perminan terbagi dalam empat kategori :
a. Permainan merupakan jalan keluar bagi energi yang berlebihan.
b. Permainan kanak-kanak merupakan persiapan untuk hidup.
c. Teori rekapitulasi (ikhtisar, ringkasan pokok-poko)
d. Dalam permainan kanak-kanak menyatakan reaksi-reaksi emosional dan
sosial.
2. Psikodrama dan Psikologi Pemain Drama
Karena problem individu hidup dalam drama, maka memungkinkan
adanya pemecahan. Hal ini dibuktikan dengan munculnya apa yang disebut
psikodrama. Orang-orang yang tidak bias menahan konflik-konflik dikumpulkan,
kemudian disusun suatu naskah permainan dengan tujuan menyelidiki dan
menemukan problem yang ada pada mereka.
3. Permainan Sebagai Pembebasan
Actor harus menggambarkan orang lain, sekaligus ia tidak bias berbuat selain
menggunakan bahan yang ada padanya.
4. Pembinaan Watak Permainan
4.1 Ada tiga bahan bagi aktor untuk menggambarkan apa yang telah
ditentukan penulis lewat tubuh dan badannya :
a. mimik yaitu pernyataan atau perubahan muka : mata, mulut, bibir, hidung,
kening.
b. Plastik yaitu cara bersikap dan gerakan-gerakan anggota badan.
c. Diksi cara penggunaan suara/ucapan.
4.2 Tiga fase cara aktor menggambarkan perannya :
a. Typering primer
Yang terpenting adalah mimik. Ada dua typering, yaitu gembira (up) dan sedih
(down).
b. Typering dramatis
Yang terpenting adalah plastik. Dengan sendirinya plastic ini (sikap dan gerak)
terpengaruh oleh mimic, dan pada umumnya bergantung juga pada tanda yang
sama, tetapi tidak setegas dan seprinsipil ditentukan seperti mimik.
c. Typering individual
Yang dipentingkan adalah diksi. Diksi ditentukan oleh aktor, karena itu ia (diksi)
bias mempengaruhi arti suatu kalimat.
Jika dibandingkan dengan mimik dan plastik maka diksi memberikan banyak
aspek istemews karena :
1. Tidak dapat dinyatakan dengan sikap atau gerak,
2. Suara halus berbicara dalam kata-kata.
· Dalam mimik : kebebasan banyak dibatasi
· Dalam plastik : kebebasan agak kurang dibatasi, karena dalam hal ini
interpretasi pribadi aktor atas maksud pengarang sering berlaku.
· Dalam diksi : aktor mendapat kebebasan sepenuh-penuhnya, tetapi masih
harus diperhitungkan dengan instruksi sutradara.
5. Aktor sebagai Pencipta
Dalam menemukan seni berperan aktor menghadapi dua masalah yang harus
dipecahkan :
1. Tujuan akting : tujuan menentukan akhtiar/usaha yang akan dijalankan.
2. Metode acting : bagaimana melaksanakan ikhtiar itu.
5.1 dua teori tentang tujuan acting
a. teori ilusi khayalan : tujuan poko acting ialah menciptakan ilusi (illusion)
atau khayalan.
b. Teori interpretasi/penafsiran : aktor tidak berusaha untuk menipu
penonton. Tujuan aktor adalah menafsirkan perwatakan serta memberikan
interpretasi.
5.2 dua aliran tentang metode acting
a. aliran emosional : aliran ini mendasarkan metode aktingnya atas emosi.
b. Aliran intelektual : aliran ini berpendapat bahwa acting harus didasarkan
atau dikonstruksikan atas suatu kecerdasan (intelek).



























BAB  VI
KESANGGUPAN KATA
1. Hubungan Suara dengan Gerak Mulut
Kalau ucapan-ucapan yang dikeluarkan itu diperhatikan benar, orang lambat laun
akan yakin bahwa memang ada hubungan antara perasaan, suara, dan gerak mulut
pada tiap-tiap ucapan. Tak mengherankan sekarang bahwa ada persesuaian antara
suara, perasaan dan gerak mulut.
2. Hubungan Suara dengan Irama
Irama adalah aturan. Pada seni lukis aturan itu menimbulkan keindahan
pemandangan, pada seni kata dan seni suara menimbulkan keindahan pada
pendengaran
3. Hubungan Suara dengan Warna
Suara tidak hanya merupakan lagu saja, suara juga dapat mewujudkan warna.
Ada dua macam teori tentang warna :
3.1 teori warna dari segi fisik
teori ini bedasarkan studi tentang sinar dan warna dalam ilmu alam. Ada tiga
warna primer, yaitu merah, kuning, biru. Ada tiga warna sekunder yaitu jingga,
hijau dan ungu.
3.2 pembagian warna menurut perasaan
menurut perasaan yang timbul karena orang melihat warna adalah, orang
menyebut warna hangat dan warna dingin. Warna hangat ialah warna yang
mengajak kita gembira dan bergerak, misalnya warna kuning dan merah
lembayung. Warna dingin adalah warna yang menimbulkan perasaan damai,
tenang, lemah, misalnya warna ungu dan biru.
4. Hubungan Perasaan dan Suara
Beberapa arti suara :
a. Keadaan sunyi menimbulkan perasaan seakan-akan orang diasingkan.
b. Gaya suara yang rendah menimbulkan perasaan sedih, suasana gelap dan
menekan. Suara yang tinggi mengajak melayang-layang karena gembira.
c. Suuara keras lagi besar seakan-akan menelan, mempengaruhi orang, tetapi
suara yang lemah lembut membuat hati lemah.
Kakau kita perhatikan benar memang ada persesuaian rasa antara suara dengan
warna. Terang ada persesuaian antara sastra yang rendah dengan suasana gelap,
suara yang tinggi, dengan suasana yang terang.
5. Peranan Kata dalam Drama
5.1 Peranan Kata dalam Drama
Bahasa tertulis harus dihidupkan oleh pemain diatas pentas. Mereka tidak akan
berdialog seperti keadaan sehari-hari. Laku didalam drama merupakan bentuk
menyatakan yang sudah dipadatkan sedangkan dialog proasis sepanjang satu
halaman misalnya bias diekspresikan dalam satu bait puisi.
5.2 Arti puisi
Kata syair/puisi merupakan nama untuk menyebut segala macam bentuk bahasa
ikatan. Menurut pengertian lama puisi adalah suatu bentuk dalam kesusastraan
yang terdiri atas empat baris dan bersajak sama.
6. Dialog, Diksi, dan Action
6.1 Dialog
Dalam struktur lakon, dialog dapat kita tinjau dari dua segi, yaitu :
a. Segi estetis
Dialog merupakan faktor litere (juga filosofis) yang mempengaruhi struktur
keindahan sebuah lakon.
b. Segi teknis
Biasanya diberi catatan pengucapan, ditulis dalam kurung. Dalam lakon bersajak
yang ucapannya secara deklamatoris, diberi tanda baca saja.
6.2 Diksi
Berbicara adalah bergerrak dan merupakan bagian dari seluruh gerakan yang tak
dapat dipandang sebagai sesuatu yang memiliki kedudukan tersendiri, justru
karena berbicara tidak bias dilepaskan dari gerak batin (pikiran dan perasaan)
yang menuntut seluruh tubuh untuk memberikan sebuah manifestasi. Sebagai
contoh akan dikemukakan bagaimana hubungan antara bicara dengan gerakangerakan
lain dalam tubuh kita, yaitu :
- Gesture : gerak tangan, isyarat, yaitu posisi bagian tubuh untuk
mengutarakan emosi atau ide.
- Movement : pertukaran tempat kedudukan pada pentas. Missal : datang
dari pintu, melewati kursi menuju jendela.
- Bussines : kesibukan yang karakteristik, yang mempunyai cirri-ciri khas.
Missal : merokok, mengupas buah-buahan, menjahit, menulis dan lain-lainnya.
6.3 Action
Action merupakan istilah yang sering membingungkan dan sering pula
dikacaukan dengan movement. Secara teknis, action adalah istilah literer yang
digunakan dalam naskah.
Ada dua macam movement :
1. Direct Movement
Yaitu suatu gerak hakiki (esensial) yang diperlukan pada saat lakon berlangsung.
2. Indirect Movement
Yaitu gerak kreatif, bukan esensial, tetapi meyakinkan dan menghidupkan gerak
dasar pada saat lakon berlangsung.












BAB VII
SUTRADARA
1. Sejarah Timbulnya Sutradara
Sutradara : karyawan yang mengkoordinasi segala unsur-unsur teaer dengan
paham, kcakapan, serta daya khayal yang intelegensi sehingga mencapai suatu
pertunjukan yang berhasil.
Producer : penanggung jawab keungan dan promosi.
Manager : tokoh eksekutif dari produser, penanggung jawab tata laksana.
Stage Manager : tokoh eksekutif dari sutradara, dialah yang mengatur panggung
dan seluruh perlengkapannya.
Dalam perkembangan kedudukan sutradara ada tiga kejadian penting :
1. Pada saat Saxe Meiningen mendirikan suatu rombongan teater pada tahun
1874-1890 mereka mementaskan 2591 drama di Berlin dan seluruh Jerman.
Setelah itu mereka mengadakan tur ke Negara-negara Eropa lainnya sehungga
akhirnya mempengauhi.
2. Moscow Art Theater yang dipimpin oleh Constatin Stanislavsky (1863-
1938). Stanislavsky (guru R. Boleslavsky) adalah pendiri teori penyutradaraan
termasuk penghapus sitem bintang.
3. Lewat Princetown Players dan Group Theater, Stanislavsky
memepengaruhi Broadway sehingga teater professional menerima pendapatannya
(metodenya). Dengan adanya kedudukan sutradara, teater/drama memasuki babak
baru dalam sejarah hidupnya.
Kedudukan sutradara.
Sutradara berdiri di tengah-tengah segitiga, bertindak sebagai pusat kesatuan
kekuatan, juga sebagai coordinator bagi prestasi-prestasi kreatif aktor dan patra
teknisi. Akhirnya sutradara harus menjadi seorang seniman yang berarti.
2. Teori Penyutradaraan
2.1 Teori Gordon Craig
Harus ada kekuatan ide dalam teater. Jika teater adalah seni maka ia harus
mengekspresikan kepribadian si seniman. Sutradara mengejawantahkan idenya
lewat aktor dan aktris.
Kebaikan teori ini adalah hasilnya sempurna (perfec), tata tertib terjamin, teratur
teliti. Kelemahan atau keburukannya ialah sutradara menjadi dictator, aktor dan
aktris aadalah alat sutradara, harus meniru gaya sutradara yang merupakan
prototip, kreativitas mereka dihilangkan atau dihalangi, padahal tujuan produksi
lakon ialah memeberi kesemapatan bagi aktor dan aktris untuk memberikan
sumbangan bagi keseluruhnnya.
2.2 Teori Laissez Faire
Dalam teater ini aktor dan aktris adalah pencipta dalam teater. Tugas sutradara
adalah membantu aktor dan aktris mengekspresikan dirinya dalam lakon, seorang
supervisor individualnya agar melaksanakan peranan sebaik-baiknya.
Kelemahan teori ini adalah sutradara bukan seorang diktator melainkan pembantu.
Kelemahan teori ini adalah terdapat bahaya akan timbulnya kekacauan dan kurang
teratur, kurang teliti.
3. Pembinaan Kerja Sutradara
3.1 Menentukan nada dasar
Tugas pertama sutradara adlah mencari motif yang merasuk karya lakon, yang
memberi cirri kejiwaan dan selalu Nampak dalam penyutradaraan.
Sebuah nada dasar dapat bersifat :
a. Ringan tidak mendalam
b. Menentukan/memberikan suasana khusus
c. Membuat lakon gembira menjadi banyolan/lucu
d. Mengurangi tragedy yang berlebih-lebihan
e. Memberikan prinsip dasar pada lakon
3.2 Menentukan casting
Macam-macam casting :
1. Casting by ability : berdasarkan kecakapan, yang terpandai dan terbaik
dipilih untuk peran yang penting/utama dan sukar.
2. Casting to type : pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik si
pemain.
3. Antitype casting : pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik si
pemain.
4. Casting to emotional temperament : memilih seseorang berdasarkan hasil
observasi hidup pribadinya.
5. Therapeutic-casting : menetukan seorang pelaku bertentangan dengan
watak aslinya dengan maksud menyembuhkan atau mengurangi ketakseimbangan
jiwanya.
3.3 Tata dan Teknik Pentas
Segala yang menyangkut soal tata pakaian, tata rias, dekor, tata sinar. Semua itu
harus disesuaikan dengan nada dasar.
Tata dan teknik pentas ialah segala masalah yang tidak termasuk cerita, naskah
dan acting.
3.4 Menyusun Mise En Scene
Mise en scene ialah segala perubahan yang terjadi pada daerah permainan yang
disebabkan oleh perpindahan pemain atau peralatan. Dengan mise en scane
sutradara memberikan sryktur visual pada lakon dengan komposisi pentas.
Pemberian bentuk ini bias tercapai dengan 14 macam cara :
1. Sikap pemain
2. Pengelompokan
3. Pembagian tempat kedudukan pelaku
4. Variasi saat masuk dan keluar
5. Variasi penempatan perabot (mebel)
6. Variasi posisi dua pemain yang berhadap-hadapan
7. Komposisi dengan menggunakan garis dalam penempatan pelaku
8. Ekspresi kontras dalam warna pakaian
9. Efek tata sinar
10. Memperhatikan ruang sekeliling pemain
11. Menguatkan/meluangkan kedudukan peranan
12. Memperhatikan latar belakang
13. Keseimbangan dalam komposisi
14. Dekorasi
3.5 Menguatkan atau Melemahkan Scene
Sebuah nada dasr merasuk lakon seluruhnya. Usaha menguatkan atau
melemahkan adegan adalah teknik yang menggarap berbagai adegan dalam lakon.
Kita dapat menentukan tekanan atau aksen pada lakon menurut pandangan kita
tanpa mengubah naskah.
3.6 menciptakan Aspek-Aspek Laku
sutradara harus dapat memberikan saran kepada aktor agar mereka menciptakan
apa yang disebut laku simbolik atau acting kreatif. Laku simbolik adalah cara
berperan yang biasanya tak terdapat dalam instruksi naskah, tetapi diciptakan
untuk memperkaya permainan, yaitu lebih menjelaskan kepada penonton apa
yang terkandung dalam batin penonton.
Ada dua macam laku simbolik :
1. Yang memperkaya permainan yang diciptakan aktor dengan atau tanpa
petunjuk sutradara (aliran laissez faire).
2. Yang tidak diciptakan oleh pemain secara individual, tetapi ditentukan
oleh sutradara (aliran Gordon Craig).
3.7 Mempengaruhi Jiwa Pemain
a. Dua macam kedudukan sutradara
1. Sebagai Teknikus
Ciri-ciri seorang sutradara teknikus, yaitu dia akan mencipta pergelaran yang
menyolok dan menaik perhatian. Dengan montase yang agung, teknik dekor yang
luar biasa, tata sinar yang menakjubkan, dia berusaha menerapkan film dan teater.
Tokoh-tokoh internasional : Erwin Piscator (Jerman 1893- ) seorang sutradara dan
pendesain pentas, Max Reinhadt (Austria 1873-1943) seorang sutradara dan
produser.
2. Sebagai psikolog Dramatis
Ciri-ciri sutradara psikolog dramatis, yaitu ekspresi luar atau lahiriah dalam
pagelaran menjadi berkurang. Dalam menggambarkan watak dia lebih
mengutamakan tekanan psikologis, khususnya pada cara acting yang murni ketika
prestasi permainan pribadi ditempatkan dalm arti yang sebenarnay. Tokoh-tokh
internasional : Constantin Stanlavskiy, kelompok teater I.O.C dari London
mengarah kepada perpaduan tipe pertama dan tipe kedua.
b. Dua cara mempengaruhi pemain
Ada dua cara mempengaruhi pemain, yaitu :
1. Dengan menjelaskan - sutradara sebagai interpretator
Ia menjelaskan bagaimana menggambarkan untuk peranan dan bagaimana
berusaha agar mimik plastik, diksi, sesuai dengan idenya.
2. Dengan memberi contoh - sutradara sebagai aktor
Sutradara langsung member contoh acting dalm hal ini ia harus banyak
berpengalaman seperti aktor. Keuntungannya ialah cepat dipahami : bahanya,
pemain membuat imitasi.
c. Perbandingan antara nada dasar dan pengaruh psikologi
o Nada dasar : berlaku untuk keseluruhan lakon, berusaha menyamakan
semua peranan secara psikologis dan menyesuaikan tata pentas dengan acting.
Masalah nada dasr ini adalah suatu paham sintetis.
o Pengaruh psikologis : berdasrkan nada dasar diusahakan agar setiap
pemain memiliki ciri khusus pribadinya sehingga perbedaan dalam kepribadian
tampak. Masalah ini lebih bersifat analitis.



Poskan Komentar