Minggu, 12 Mei 2013

JAGAD ESTETIKA SASTRA MELAYU




JAGAD  ESTETIKA SASTRA MELAYU
Abdul Hadi W. M.
Secara geografis apa yang disebut Dunia Melayu merupakan sebuah kawasan yang luas dan tidak mudah dijelaskan batas-batasnya. Namun secara budaya tidak sukar diberi batas, terutama jika melihat hasil-hasil kesusastraanya. Sekalipun karya-karya yang dapat dimasukkan ke dalam kesusastraan Melayu aneka ragam dan ditulis dalam rentang zaman serta di tempat yang berbeda-beda, namun selalu tampak adanya hal-hal yang menyatukanselain dari kesamaan bahasanya. Hal yang menyatukan terutama ialah asas batin yang mendasari corak dan estetika penulisannya, seperti pandangan hidup (way of life), gambaran dunia (Weltanschauung) dan dunia nilai-nilai yang diungkapkan.

Khazanah sastra Melayu begitu kaya dan naskah yang dijumpai melimpah. Isi naskah itu juga anekaragam. Karya-karya yang termasuk ke dalam lingkup sastra Melayu itu meliputi hikayat-hikayat teladan mulai dari kisah nabi-nabi Islam, dan khususnya Nabi Muhammad s.a.w; kisah mengenai para Sahabat, orang suci atau para wali, serta pahlawanpahlawan awal dalam sejarah Islam seperti  Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad li Hanafiyah, Hikayat Hasan dan Susin, sampai kisah tentang tokoh local seperti Hikayat Hang Tuah,  dan lain-lain. Setelah itu muncul karangan bercorak sejarah, roman petualangan dan percintaan, baik yang ditulis sebagai alegori sufi maupun pelipur lara. Misalnya Hikayat Syah Mardan, Hikayat Malim Deman, Hikayat Isma Yatim, Hikayat Andaken Penurat, Syair Ken Tambuhan, dan Syair Bidasari. Di sebelah itu terdapat teks-teks yang digolongkan sebagai sastra adab, seperti mengenai undang-undang dan penyelenggaraan pemerintahan seperti Taj al-Salatin.   Di bagian lain terdapat pula apa yang disebut karangan-karangan bercorak tasawuf  seperti syair-syair Hamzah Fansuri dan pengikutnya di Sumatra. Karangan-karangan ini sangat besar pengaruhnya bagi bangsa Melayu dalam membentuk pandangan hidup dan gambaran dunianya, serta tatanan nilai dalam organisasi sosial. Kesemuanya itulah yang kemudian dijadikan asas metafisik atau sendi ruhani dari kehidupan bangsa Melayu.Dalam hubungan ini tepatlah apa yang dikatakan Braginsky (1994:42), bahwa kesusastraan Melayu klasik sangat berharga  bukan saja disebabkan ia telah menjadi asas kebudayaan Melayu, tetapi juga karena sejak dahulu bahasa Melayu telah berfungsi sebagai media komunikasi penduduk Nusantara di bidang perdagangan, kebudayaan dan agama. 

Dalam kaitan inilah kesusastraan Melayu memainkan peranan sebagai penghubung antara sastra Nusantara yang berbagai-bagai itu sama dengan yang lain melalui kesusastraan Melayu. Melalui kesusastraan Melayu pembaca Nusantara bercermin diri dan mengenal lebih mendalam dirinya, yaitu pandangan hidup dan gambaran dunia yang ia serap dari Islam yang merupakan agamanya.Namun sebelum membicarakan wawasan estetika Melayu seperti tampak dalam puncak-puncak sastrnya, ada baiknya saya uraikan lebih dulu apa yang saya maksud estetika dalam makalah ini.
Estetika Sebagai Teori Seni
Sebagai cabang filsafat, estetika secara luas sering diartikan sebagai filsafat keindahan dan secara khusus sebagai filsafat seni. Dalam makalah  ini  akan diambil pengertiannya sebagai teori seni. Sebagai teori seni, estetika membicarakan antara lain apa tujuan 2penciptaaan karya seni dan bagaimana karya seni dicipta sehingga dapat memberikan kenikmatan estetik. Melalui kenikmatan estetik itulah seorang pengarang atau penyair dapatmempengaruhi jiwa masyarakatnya, dan melaluinya pula ia dapat menyampaikan pikiran, gagasan dan perasaan-perasaannya. Batasan ringkas tentang estetika sebagai teori seni tidaklah bertentangan dengan pengertian estetika itu sendiri sebagai filsafat seni. Kata estetika (aesthetics) diperkenalkan pertama kali oleh Baumgarten, seorang filosof rasionalis Jerman abad ke-18 M, dalam bukunya  Aesthetica (1750).  Diambil dari kata-kata  Yunani  aesthesis,  yang artinya pengamatan indera atau ssesuatu yang merangsanmg indera, estetika diartikan sebagai pengetahuan yang berkaitan dengan obyek-obyek yang dapat diamati secara inderawi dan merangsang indera. Obyek-obyek yang dapat diamati secara inderawi dan memberi pengetahuan khusus adalah karya seni. Di dalam perkataan aesthesis juga tercakup pengertian berkaitan reaksiorganism tubuh dan jiwa manusia terhadap rangsangan yang datang dari luar. 

Di Asia, walaupun istilah yang sepadan dengan  kata-kata  estetika tidak dikenal, pembahasan tentang estetika sebagai teori seni  selalu dihubungkan dengan spiritualitas. Bertolak dari pandangan yang mengacu kepada spiritualitas dan prinsip bahwa seni dicipta tidak dari kekosongan rohani dan pengalaman batin, Comaraswamy berpendapat bahwa pengertian yang diberikan sebagian besar ahli-ahli estetika Eropa mereduksi karya seni semata sebagai fenomena psikologi dan selera subyektif. Dari pengertian seperti telah dikemukakan di Eropa lahir beberapa teori seni yang membatasi seni dengan  penikmatan sensual dan selera subyektif. Agar sedikit jelas,  baiklah saya kemukakan dua teori menonjol  abad ke-19 dan 20 M yaitu  teori bentuk signifikan dan teori ekspressi. Teori bentuk dikemukaka oleh estetikus seperti Zimmerman, Clive Bell dan Roger Fry.  Dalam bukunya Art (1914) Bell mengemukakan bahwa semua seni visual dan musikmemiliki bentuk signifikan. Karya seni dihargai orang karena menyajikan bentuk-bentuk siginifikan. Pengasas teori ini bertolak dari pandangan keutamaan ciri obyektif dari seni dan ciri obyektif yang menonjol dari seni ialah bentul-bentuk yang dihadirkan, yang dapat memberikan penikmatan estetis kepada jiwa penikmatnya. Di dalam seni lukis  bentuk ini terbina melalui gabungan garis, warna, dan unsur kesenirupaan lain yang menimbulkan tanggapan khusus berupa perasaan estetis. (The Liang Gie 1996:31).

Menurut penganut teori ini, tugas seniman ialah melahirkan bentuk-bentuk indah dan memikat dalam karya mereka. Keindahan seni dalam pandangan ini melekat pada bentuk dan tidak berada diluarnya. Beberapa aliran seni yang lahir dari teori ini antara lain ialah realisme formal dan naturalisme naif.  Ditelusuri ke belakang sejarahnya, teori ini berakar pada pandangan Arsitoteles yang  mengatakan bahwa seni merupakan tiruan (mimesis) dari kenyataan/alam. Dalam teori ini  apa yang disebut tema, gagasan, pesan moral atau isi tidaklah penting dalam karya seni. Ini tampak dalam pandangan Bell ketika berbicara tentang lukisan, “Kalau suatu bentuk penggambaran (representation) memiliki nilai, maka nilai yang dimaksud hadir sebagai bentuk, bukan sebagai penggambaran dari suatu tema atau gagasan.” Jadi bentuk adalah pesan itu sendiri dan seni cenderung dikosongkan dari pesan moral.  Teori bentuk merupakan sanggahan terhadap teori representasi atau penggambaran yang telah ada sebelumnya. Dalam teori representasi dikatakan bahwa  seni merupakan representasi/ penggambaran atas atau tentang sesuatu seperti tema atau gagasan. Teori kedua yang penting dan  muncul sesudah teori bentuk adalah teori ekspresi. Bagi pencetus teori ekspresi suatu karya seni tidak memenuhi syarat bila hanya menghadirkan bentuk-bentuk siginifikan. Seni juga harus bersifat ekspresif, dalam arti 3menyatakan sesuatu yang ada dalam jiwa manusia, terutama perasaan dan pikiran.  Seperti dikatakan John Hospers (1967), “Art is an expression of human feeling.” Di sini pencetus teori ekspresi ingin menyatakan bahwa dalam menciptakan karya seninya seorang seniman mengungkapkan apa yang dialami, dirasakan dan dipikirkan. Apakah seni? Menurut Tolstoy “Seni menghadirkan dalam diri sendiri suatu perasaan yang telah dialami seseorang dan setelah memunculkan dalam diri kemudian dengan perantaraan gerak, garis, warna, suara, atau bentuk yang yang diungkap dalam kata-kata, maka ia telah memindahkan perasaan tersebut sehingga orang lain ikut mengalami perasaan yang sama. Inilah yang disebut kegiatan seni.”
Tentu saja masih ada beberapa lagi teori seni lain pada abad ke-20 dan awal abad ke-21 ini yang berpengaruh.  Tetapi saya cukupkan  dengan mengemukakan dua teori tersebut sebagai perbandingan atau ancang-ancang untuk membahas estetika Melayu. Seni dan Spiritualitas. Semacam teori bentuk dan teori ekspresi sebenarnya telah muncul di Asia sejak lama. Teori bentuk misalnya terlihat dalam lukisan-lukisan Tiongkok yang menekankan kepada keindahan bentuk lahir dari obyak yang dilukis, tanpa pesan moral yang dibebankan kepadanya. Teori ekspresi tampak dalam sastra India dan Arab lama, di mana perasaan dipandang sebagai hal paling utama untuk diungkap dalam puisi atau syair. Akan tetapi dua teori ini tidak diterima dalam pengertian yang murni seperti pada abad ke-20. Keyakinan yang luas di Asia ialah anggapan bahwa seni dan estetika harus mengandung pengjaran di satu hal, dan di lain tidak bisa dipisahkan dari spiritualitas atau ajaran keruhanian. Ini karena seni, khususnya sastra, di satu sebenarnya merupakan ilmu yang disampaikan secara estetik dan di lain hal apa yang disebut keindahan itu tidak lain merupakan pengalaman keruhanian. Makin tinggi tingkat pengalaman keruhanian seorang seniman, maka mutu dan bobot karya seni yang dia ciptakan akan semakin tinggi pula.

Pada abad ke-20, teori bentuk dan ekspresi mendapat penolakan dari beberapa estetikus Asia seperti A. K. Comaraswamy, Seyyed Hosein Nasr, dan Pabitra Kumar. Mereka tidak puas pada pengertian bahwa masalah keindahan atau penikmatan estetis dalam seni dibatasi pada penikmatan tentang bentuk dan perasenurut mereka.  Seyyed Hossein Nasr (1987) dan  Pabitrakumar (1990)   memandang bahwa  seni juga  bertalian dengan hasrat Misalnya sebagaimana tampak dalam puisi-puisi Jalaluddin Rumi di Persia, dan Rabindranath Tagore dan Muhammad Iqbal pada abad ke-20 M. Dari pandangan ini pulalah lahir pembagian seni seperti dibuat  Comaraswamy dan  klasifikasi Braginsky tentang karyakarya Melayu Klasik.
Comaraswamy mengklasifikasikan seni ke dalam tiga kelompok : (1) Seni murni atau tulen,  yaitu seni yang benar-benar bertalian dengan masalah kerohanian dan ketuhanan, seperti syair-syair mistik di India dan Jawa atau syair-syair tasawuf dalam sastra Arab, Persia, dan Melayu. Dikatakan murni karena tak mengandung pamrih duniawi dan semata ditulis bagi penyempurnaan batin pembacanya; (2) Seni dinamik, yaitu karya seni yang mengetengahkan persoalan kemasyarakatan dan kegiatan manusia dalam bidang sosial, politik, ekonomi, pemerintahan, dan budaya; (3) Seni apathetik, yaitu karya-karya seperti pelipur lara yang menekankan pada hiburan seraya memasukkan unsur pengajaran ke dalamnya.  (Abdul Hadi 2007).
Klasifikasi Comaraswamy dibuat berdasar penelitian mendalam dan luas atas seni Asia, khususnya India, Indonesia dan Persia. Di sini tampak bahwa dalam hal-hal tertentu seni dihubungkan dengan ajaran agama dan kearifan. Di lain hal seni juga harus menggambarkan sesuatu yang melaluinya seseorang seniman menyampaikan pesan moral atau keruhanian.  Dari pendirian seperti itulah muncul beberapa pandangan yang berbeda mengenai sastra, yang masing-masing dipatuhi oleh para penganutnya. Pertama, pandangan yang mengatakan bahwa sastra yang baik harus  memenuhi fungsi sebagai sarana pengajaran. Termasuk pengajaran adalah kritik sosial dan gagasan keagamaan. Kedua,  pandangan yang berpendapat bahwa pada hakekatnya sastra merupakan permainan kata-kata indah yang memberikan penikmatan estetis tertentu khususnya menghibur. Dari pandangan ini lahir karangan yang disebut pelipur lara, namun kemudian dengan munculnya agama Islam diberi isi berupa pengajaran yang berfaedah.  Ketiga, sastra/puisi adalah eklspresi perasaan dan pikiran individual pengarang yang bisa saja juga merupakan perasaan orang lain dalam suatu komunitas. Keempat, sastra adalah hasil perenungan terhadap pengalaman batin si penulis dalam mengamalkan ajaran agama atau kerohanian yaitu tasawuf.
Menarik juga dikutip di sini klasifikasi yang dibuat Braginsky (1993). Dia mengelompokkan karya-karya Melayu warisan peradaban Islam  menjadi tiga berdasar persoalan yang dikemukakan : (1) Karya yang menggarap lapis Kesempurnaan dan Estetika  Batin; (2)  Karya   yang menggarap  lapis  Faedah dan Hikmah; (3)  Karya  yang menggarap lapis Hiburan dan Estetika Zahir.(1). Karya-karya  yang  menggarap lapis   kesempurnaan  jiwa (kamal),  menggambarkan  upaya  manusia  mencapai  pengetahuan tertinggi   (ma`rifat),  jalan  kerohanian   (suluk),      bentuk pengalaman dan keadaan rohani (maqam dan  ahwal) yang diperoleh seorang  penempuh  jalan rohani (salik) dan  lain  sebagainya. Karya-karya  yang menggarap sfera kesempurnaan jiwa  ini juga menggambarkan cita-cita  manusia  mencapai pribadi    insan   kamil meneladani  Nabi  Muhammad s.a.w.,  kerinduan seorang   `asyik(pencinta)  kepada  Sang Kekasih (mahbub),  yaitu  Yang  Satu. Dalam  karya  kategori ini dipaparkan juga  jalan  pengenalan diri,  yang  amat penting bagi seorang Muslim  untuk  mengenal perannya  sebagai khalifah Tuhan di atas dunia  dan  sekaligus hamba-Nya.  Syairsyair semacam ini juga sering disebut sebagai syair-syair Tauhid dan Makrifat.
Selain   ditulis  dalam  bentuk  puisi   didaktis   dan simbolik, juga ada yang ditulis dalam bentuk  kisah perumpamaan.  Karya-karya Hamzah Fansuri  dan  murid-muridnya seperti Abdul Jamal, Hasan Fansuri, Syamsudin Pasai, dan  juga beberapa  karangan Abdul Rauf Singkel dan  lain-lain  termasuk dalam  kategori ini. Kecuali karya tiga penulis  ini terdapat karya  ahli  tasawuf  lain yang namanya  belum  diketahui.  Di antaranya  Syair Perahu (dalam tiga versi yang berbeda),  Ikat-ikatan   Bahr al-Nisa' (Lautan Perempuan), 

Syair Dagang  (yang agaknya  ditulis  penyair asal  Minangkabau),  Hikayat  Burung Pingai, Syair Alif dan lain-lain.Menurut  Braginsky  (1993)  karya-karya  yang termasuk ke dalam kategori   ini mempunyai  tujuan  menyucikan kalbu dan jiwa  manusia,  karena kalbulah  yang merupakan sarana penghayatan intuitif  terhadap keberadaan  Yang Haq dan Yang Satu. Keindahan yang  dipaparkan dalam  keindahan batin yang berhubungan dengan gagasan sufi tentang kesempurnaan jiwa manusia. (2)  Karya-karya yang mengungkap lapis faedah, yaitu keindahan pemikiran tentang sesuatu atau adab yang dapat memberikan faedah bagi pembacanya, terutama berkenaan dengan kehidupan sosial dan kehidupan menjalankan perintah agama.  Termasuk dalam 5 kelompok ini ialah Hikayat  Nabi  dan Sahabat,  Hikayat  Pahlawan  Islam, serta karya kesejarahan dan adab. Karya katagori ini bermaksud memperkuat  dan  menyempurnakan  akal  manusia,  yaitu  sarana intelektualnya, dengan membeberkan kisah-kisah yang mengandung hikmah dan pengajaran. Di antara karya termasuk sastra adab yang terkenal ialah  Taj al-Salatin (Mahkota Raja-raja)  karya Bukhari Jauhari dan  Bustan al-Salatin (Taman Raja-raja)  karya Nuruddin  Raniri dan Nasih Luqman al-Hakim  (anonim).  Karyakarya ini menjadi cermin pengajaran dan tuntunan  bagi  raja-raja,  pegawai  pemerintahan  dan  pemimpin  masyarakat dalam menjalankan pemerintahan agar tercapai   keadilan  dan kesejahteraan  sosial, dan dengan demikian  agama  berkembang. Sedangkan karya  bercorak  sejarah  menggambarkan  jatuh bangunnya  raja-raja  dan dinasti, sebab-sebab kejatuhan dan kebangunannya, peristiwa-peristiwa penting yang  mempengaruhi kehidupan masyarakat dan jalannya sejarah.

Karya  bercorak sejarah ada yang ditulis  dalam  bentuk syair  dan  ada yang ditulis dalam bentuk  prosa. Bustan  al-Salatin  merupakan karya bercorak sejarah  dan  adab.  Karya bercorak  sejarah lain yang terkenal ialah  Hikayat Aceh (anonim), Sulalat al-Salatin atau  Sejarah Melayu karya Tun Sri Lanang dan Tuhfat al-Nafis karya Raja Ali Haji. Jumlah karya bercorak sejarah sangat banyak. Selain yang telah  disebut,  karya  kesejarahan lain  yang  masyhur ialah Hikayat Pasai, Hikayat Merong Mahawangsa, Hikayat Banjar, Misa  Melayu,  Hikayat Johor, Hikayat Maulana Hasanuddin Hikayat Patani, Sejarah Rajaraja Riau, Salasilah Melayu dan Bugis  Salasilah  Kutai, Hikayat Bengkulu dan  lain-lain. Yang  ditulis dalam bentuk syair di antaranya  ialah Syair  Perang Mengkasar, Syair Sultan Maulana, Syair Moko-moko, Syair Sultan Zainal  Abidin,  Syair Perang Siak, Syair Pangeran Syarif Hasyim,  Syair Singapura Terbakar,  Syair  Siti  Zubaidah  Perang  dengan  Cina,  Syair Kompeni Walanda Perang dengan Cina dan lain-lain. Menurut Ali Ahmad (1991)  karya bercorak sejarah yang  disebut  salasilah memiliki  unit  cerita  yang  terdiri dari  kisah-kisah dan legenda,  namun  tidak  seperti  hikayat  yang  diikat oleh perkembangan  tokohnya  yang  stereotype, karya   kesejarahan diikat oleh perkembangan kejadian dan hikmah yang dikandung dalam  kejadian tersebut. Krisis yang terjadi dalam sebuah negara, yang membuat jatuhnya sebuah dinasti  atau seorang raja, selalu dicari sebabnya pada krisis moral dan akhlaq, serta  penyimpangannya terhadap ajaran Islam, misalnya  tidak dilaksanakannya keadilan dan raja tidak lagi taat pada undang-undang dan tidak berperan sebagai pelindung rakyat dalam  arti yang sebenar-benarnya. (3) Karya  yang menggarap lapis hiburan  dan  estetika zahir  (luaran),  termasuk ke dalam jenis  ini  ialah  Pelipur Lara. Tujuan karya seperti itu ialah menyerasikan  kesan-kesan kejiwaan  yang  kacau disebabkan kobaran  hawa  nafsu,  sebuah sarana  penghayatan  indrawi  atau  sensual   manusia   dalam menanggapi kehidupan. Kesan-kesan  kejiwaan  yang kacau  harus  diserasikan dengan  nilai  moral dan ajaran agama, dan upaya ke  arah  itu dicapai melalui bantuan keindahan karya sastra yang memberikan semacam psikoterapi kepada jiwa, yaitu menghibur atau melipur. Karangankarangan dalam  kategori ini termasuk  hikayat  dan syair percintaan, kisah petualangan yang dibumbui  kisah-kisah luar biasa atau ajaib. Kisah-kisah ajaib ini tidak dimaksudkan sebagai mitos, melainkan sebagai representasi pengalaman  jiwa manusia yang ruang kejadiannya berlaku di alam misal atau alam imaginal.

Ibnu Sina dan Estetika Melayu
Estetika Melayu, terutama seperti tampak dalam sastranya, adalah turunan dari estetika Islam yang dasar-dasarnya antara lain diletakkan oleh Ibn Sina dan Imam al-Ghazali. Karena itu ada baiknya saya paparkan secara ringkas pandangan dua filosof Muslim awal itu mengenai estetika, baik sebagai teori seni maupun sebagai filsafat keindahan.Ibnu Sina, dan juga pendahulunya al-Farabi, adalah filosof Muslim awal yang secara tersurat membicarakan pentingnya estetika dalam hubungannya dengan perkembangan seni dalam Islam. Walaupun risalahnya tentang estetika yaitu  Kitab al-Shi`r  membicarakan estetika penulisan puisi atau puitika, namun secara tersurat membicarakan pula konsepkonsep yang berkaitan dengan penciptaan seni secara umum terutama seni rupa. Ini terbukti dengan besarnya pengaruh pemikiran Ibnu Sina dalam perkembangan seni rupa Islam khususnya lukisan geometri dan arabesque (seni hias tetumbuhan) yang merupakan bentuk seni rupa menonjol dalam Islam selain kaligrafi (khat). Pembahasan Ibn Sina antara lain bertolak dari dua konsep kunci mengenai penciptaan seni yang diperdebatkan oleh Plato dan Aristoteles di Yunani, yaitu  mimesis  (tiruan) dan creation (ciptaan). Menurut Plato seni yang dicipta berdasarkan prinsip mimesis atau tiruan dari kenyataan/alam bukan merupakan karya seni yang bagus. Seniman yang melahirkan karya seni berdasarkan prinsip  mimesis  mengandalkan semata-mata pada pengamatan inderawi. Seni atau sastra yang baik adalah turunan atau salinan kreatif (creation)  dari idea yang ada dalam pikiran seniman. Seni seperti lahir melalui aktivitas kontemplasi dan meditasi. Aristoteles sebaliknya memandang sebaliknya. Seni yang baik menurutnya dicipta berdasar prinsip  mimesis. Walau seperti meniru kenyataan atau alam, namun peniruan itu dilakukan seniman itu melalui proses intelektual tertentu. Dikotomi  mimesis  dan  creation sebagai asas penciptaan seni ini terus diperdebatkan hingga kini dalam seni modern, namun dalam tradisi Islam sudah dipecahkan hingga tidak dipersoalkan lagi. Yang berjasa memecahkan persoalan ini ialah al-Farabi dan Ibnu Sina.Bertolak dari sinthesa pandangan Plato dan Aristoteles, seraya meneliti perkembangan seni Islam khususnya puisi pada zamannya, Ibn Sina mengatakan bahwa seni/puisi adalah persembahan estetis berdasarkan mimesis (mutabaqah) dengan menyertakan prinsip penciptaan secara kreatif untuk suatu tujuan tertentu melebihi persembahan non-puitik. Dalam proses penciptaan, seorang seniman tidak hanya mencipta dengan bersandar pada akal rasionalnya, tetapi juga menggunakan apa yang disebut imaginasi (takhyil).
Seorang penyair, kata Ibnu Sina, mencipta untuk menjelmakan pengalaman estetik (iltizat) ke dalam obyek visual/ gambar-gambar atau citra yang dicerap indera yang dengan itu apa yang hendak dikemukakan dapat dihidupkan kembali dalam imaginasi penikmatnya.Melalui citraan-citraan yang menggambarkan suatu perasaan atau pikiran itu, seorang penyair terutama ingin memberikan kenikmatan estetis kepada penikmatnya seraya menyampaikan pesan moral atau kerohanian tertentu. Menurut Ibn Sina, karya seni/puisi pada hakekatnya bersifat imajinatif (mutakhayyil).  Kata  mutakhayyil,  sebagaimana  takhyil,  dibentuk berdasarkan akar kata kh y l, yang arti harfiahnya “membuat percaya”. Berdasar pengertian yang diberikan kepada akar katanya itu,  maka perkataan  takhyil  (imajinasi)  diberi arti “seperangkat tindakan yang dapat menyebabkan seseorang memberi tanggapan langsung tanpa perlu berpikir lama terhadap sesuatu”,  yaitu puisi atau karya seni. Sedangkan kata mutakhayyil  (imajinatif) diberi arti, “obyek pengetahuan yang dapat ditangkap secara langsung tanpa berpikir lama, misalnya mengenai pikiran dan perasaan tertentu yang diungkap atau diekspresikan dlalam sebuah puisi.” (Abdul Hadi W. M. 2004:251-2).  7Di lain hal dalam Kitab Ihsa` al-`Ulum al-Farabimemberi artiarti terhadap kata takhyil sebaga “proses kejiwaan yang menyebabkan seni menjadi imajinatif, evokatif, dan kreatif”. Kata takhyil  digunakan di sini untuk menggantikan kata  mimesis  sebagaimana digunakan Plato ddan Aristoteles. Sebab, menurut al-Farabi, dalam kata-kata imajinatif dan imajinasi, sudah terkandung pengertian yang merujuk kepada meniru, menyalin, atau menggubah berdasarkan sesuatu yang dijadikan gubahan. Penyalinan menggunakan imajinasi yang dilakukan penyair/seniman berbeda dari penyalinan yang dilakukan ilmuwan dalam melahirkan wacana ilmiah. Yang terakhir ini mendasarkan diri pada obyektivitas dan penalaran rasional logis, sedangkan imajinasi bersifat subyektif dan pribadi, dan tidak memerlukan pembktian rasional obyektif atau logis untuk meyakinkan penikmat seni. Yang hendak disajikan penyair atau sastrawan bukanlah kebenaran ilmiah, melainkan bentukbentuk pengalaman spiritual yang disebut  iltizat, yaitu yang lazim disebut pengalaman estetik.
Berdasar pandangan ini Ibn Sina mengatakan bahwa hubungan antara obyek-obyek estetis dalam karya seni dan realitas/alam dapat dirumuskan sebagai berikut: (1) tahsin, artiharafiahnya stilisasi atau upaya membuat sesuatu lebih indah dan teratur, jadi kenyataan sudah dirobah untuk tujuan estetis; (2)  taqbih, arti  harafiahnya deformasi; (3)  mutabaqah, yaitu pemberian keseimbangkan antara dimensi lahiriah dan rohaniah obyek/kenyataan. Disini sesuatu tidak hanya ditonjolkan sosok lahiriyahnya melainkan disingkap juga keadaan rohaniahnya. Dari sini lahir konsep tentang bentuk (surah)  dan isi (ma`na). Prinsip ini ditegaskan dalam bentuk puisi Melayu yang popular yaitu pantun, yang terdiri dari sampitan dan isi.
Gagasan bahwa seni/puisi merupakan salinan dari pengalaman estetik melahirkan pandangan bahwa tidak ada hubungan langsung antara kenyataan dalam karya seni/sastra dan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari. Penyair menulis  puisi bukan untuk menyajikan kenyataan sebagaimana adanya, tetapi kenyataan yang telah diresapi dengan perasaan, pikiran atau gagasan yang ada dalam jiwanya. Dengan perkataan lain, kenyataan yang disajikan dalam puisi adalah kenyataan yang telah dibentuk oleh pengalaman batin dan pandangan hidupnya sendiri, serta diberi nilai secara pribadi oleh sang penyair. Wawasan estetika yang diletakkan Ibn Sina dan al-Farabi, dilanjutkan oleh beberapa penulis sufi seperti Imam alGhazali, Ibn `rabi, Jalaluddin Rumi, dan lain-lain. Menurut mereka,  puisi atau karya seni pada umumnya, bukanlah salinan langsung dari kenyataan melainkan salinan dari dari kenyataan yang hidup dalam jiwa penyair/seniman. Puisi tidak lebih dari ibarat atau perumpamaan tentang yang ada di dalam  alam mithal  atau jiwa manusia. Sebagai  ibarat, puisi/seni menyampaikan sesuatu melalui sesuatu yang lain. Sesuatu yang lain disebut mithal (simbol) dan yang diibaratkan disebut yang disimbolkan atau dimisalkan. Yang dimisalkan inilah pesan atau isi suatu karya seni, yang dengan perkataan lain disebut ma`na. Sedangkan perumpamaan/simbolnyadisebut surah. Berdasarkan pemikiran ini penulis-penulis sufi kemudian mengembangkan teori representasi. Karya seni/sastra tidak lain adalah representasi/penggambaran secara simbolik
dari gagasan dan pengalaman seorang seniman. Penggambaran itu sendiri dilakukan melalui suatu perenungan yang mendalam, sehingga timbul pendirian bahwa karya seni adalah hasil perenungan terhadap gagasan dan pengalaman batin yang ditransformasikan ke dalam ungkapan estetik seni. Dengan munculnya pendirian ini maka teori bentuk dan teori ekspressi yang dominan dalam seni modern, tidak memadai untuk menjelaskan wawasan estetika yang berkembang di dunia Melayu. Khususnya sehubungan dengan penciptaan karya sastra.8 Ada beberapa alasan bisa dikemukakan mengapa demikian. Salah satu di antaranya pandangan hidup (way of life)  Melayu tentang keindahan dan nilai-nilai keindahan. Pandangan ini bersumber dari Islam yang memandang bahwa keindahan rohaniah lebih penting dari keindahan lahiriah. Alasan lain ialah gambaran dunia (Weltanschauung) Melayu, yang memandang bahwa alam semesta adalah bagaikan sebuah Kitab Agung yang di dalamnya terhampar dan terbentang ayat-ayat-Nya atau tanda-tanda-Nya yang menakjubkan. Wawasan estetika penulis Melayu sangat dipengaruhi oleh pandangan hidup dan gambaran dunia ini. Alasan lain yang muncul kemudian ialah konvensi yang mengharuskan karangan sastra, apa pun bentuk, jenis dan coraknya, mesti mengandung pengajaran atau  hikmah.Dengan begitu karangan yang baik  tidak hanya indah bahasanya, melainkan  harus mengandung isi sehingga  bermanfaat. Dalam sastra sufi, lebih jauh karangan sastra seperti syair dikarang sebagai suluk  atau jalan keruhanian. Sebagai jalan keruhanian, sebuah puisi misalnya, dapat dijadikan kendaraan jiwa untuk naik dari alam jasmani  menuju alam ruhani dan ketuhanan.
Pandangan penulis Melayu tentang pentingnya keindahan ruhaniah dibanding keindahan lahiriah, sangat dipengaruhi oleh pandangan Islam. Hadis  Nabi misalnya mengatakan bahwa keindahan ruhaniah (jamal)  merupakan keindahan mutlak yang mengandung hikmah, sedangkan keindahan lahiriah (husn) sifatnya memukau (sihr). Pandangan itu lebih jauh dapat dirujuk pada Imam al-Ghazali, yang kitabnya  Ihya `Ulumuddin  menjadi bacaan luas para ulama dan cendekiawan Melayu termasuk para penulisnya.  Dalam kitabnya itu Imam al-Ghazali mengatakan lebih kurang, “Ketahuilah olehmu bahwa orang yang terkungkung oleh imajinasi dan pancaindra mungkin menganggap keindahan dan kenikmatan ialah tidak lain dari keselarasan bentuk dan keindahan
warna….Memang, keindahan sering disangka manusia sebagai sesuatu yang menarik pandangan dan paling sering manusia melihat kecantikan (rupa) manusia lain. Oleh karena itu dia mungkin berpikir: mustahil membayangkan keindahan sesuatu yang tidak dilihat mata, yang tidak terjangkau oleh imajinasi, yang tidak mempunyai rupa dan warna…”. Lebih jauh Imam al-Ghazali mengatakan, bahwa , “ Keindahan tidak terbatas dalam rangka benda-benda yang dilihat dan tidak pula merupakan sekadar keselarasan bentuk dan rupa yang penuh harmoni.”. Selain keindahan yang dapat cerap oleh pancaindera dan terjangkau  imajinasi, ada keindahan yang hanya bisa dicerap oleh akal budi dan intuisi seperti akhlaq mulia, pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu, kecerdasan, budi bahasa, keberanian, iman yang teguh, kemurahan jati dan lain-lain.Keindahan ruhaniah seperti inilah yang terutama harus ditekankan dalam sebuah karangan sastra, sehingga dengan demikian karya sastra mengandung pengajaran yang bermanfaat. Pandangan seperti ini tentu saja tidak akan dapat ditampung baik oleh teori bentuk siginifikan maupun oleh teori ekspresi. Mengenai alasan yang kedua, sumber rujukannya bisa ditemui dalam al-Qur’an. Misalnya ayat yang  mengatakan bahwa
 “Ayatayat-Nya terbentang di alam semesta dan dalam diri manusia”. Bahkan, menurut al-Qur’an, 

“Kapal-kapal yang berlayar di lautan dan tegak bagaikan gunung-gunung adalah juga ayatayat-Nya, yaitu tanda-tanda keberadaan-Nya yang menakjubkan.”. Diipengaruhi oleh gambaran al-Qur’an tentang alam atau dunia ini;ah   penulis-penulis Melayu memandang  alam semesta  sebagai sebuah kitab agung yang indah,  sebuah  karya sastra.  Sang  Pencipta menjelmakan  dunia  dari  Perbendaharaan pengetahuan-Nya yang tersembunyi (kanz makhfiy).    Ia,  dunia, ditulis   dengan  Kalam  Tuhan  pada  Lembaran   yang   sangat terpelihara  (lawhul  mahfudz)  (Braginsky  1993:1).   Pribadi manusia,  dengan  wujud  zahir dan  batinnya,  juga  merupakan sebuah  kitab, sebuah karya sastra.  Keseluruhan  hikmah  alam semesta direkamkan  ke  dalam diri  atau pribadi manusia setelah diringkas  dan  dipadatkan. Hikmah-hikmah tersebut hadir sebagai ayat-ayat-Nya yang  penuh rahasia  dan patut direnungkan oleh mereka  yang  berkeinginan mengenal hakekat dirinya dan Tuhannya, sebagaimana  dinyatakan oleh Imam al-Ghazali (Ihya' Ulumuddin dan Kimya-i Saadah)
Selaras dengan gambaran tersebut, karya sastra mestilah dibentuk  menyerupai  pribadi  manusia.  Ungkapan  zahir  atau bentuk luar karya sastra, sebagaimana tubuh manusia dan  wujud alam, hendaknya memberi bayangan tentang kehadiran rahasia dan keberadaan  Tuhan.  Gejala-gejala  alam,   peristiwa-peristiwa kemanusiaan  dan  sejarah, keindahan yang tak  tepermanai  dan berbagai-bagai  di alam syahadah merupakan  manifestasi  cinta Tuhan  dan  pengetahuan-Nya yang tidak  terhingga.  Semua  itu dihadirkan agar dikenal dan dijadikan  jalan kenaikan.  Ini sesuai dengan prinsip metafisika atau  ontologi Sufi:  'yang  banyak' merupakan  manifestasi  keindahan  Yang Satu,  yakni  cinta dan pengetahuan-Nya. 'Yang  banyak'  tidak terbebas dari pengetahuan Tuhan, sebab 'yang banyak'  diliputi oleh pengetahuan-Nya, dan tidak terbebas pula dari  cinta-Nya, yakni al-rahman dan al-rahim-Nya. Karena itu penulis-penulis Melayu selalu memulai karangannya dengan ucapan Basmalah  atau puji-pujian kepada Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Cara meresapi dan memahami hakekat penciptaan ini ialah melalui  peresapan  kalbu,  atau  melalui  `ishq  (cinta)  dan pemahaman   spiritual,  yaitu   ma`rifah.   Perkatan-perkataan berahi,  rindu,  mabuk,  takjub, lena,  leka,  gharib,  asyik, karib, tamasya dan lain-lain -- yang sering kita jumpai  dalam karya-karya  penyair Melayu -- merujuk kepada  keadaan-keadaan rohani  yang  dialami seorang asyik dan  ahli  makrifat  dalam perjalanannya menuju Yang Satu.Apa yang dikemukakan tampak dalam sajak ”Berdiri Aku” Amir Hamzah.
            Berdiri aku di senja senyap
            Camar melayang menepis buih
            Melayah bakau mengurai punca
 Berjulang datang ubur terkembang
  Angin pulang menyejuk bumi
 Menepuk teluk mengempas emas
 Lari ke gunung memuncak sunyi
 Berayun alun di atas alas
Benang raja mencelup ujung
Naik marak mengorak corak
Elang leka sayap tergulung
 Dimabuk warna berarak-arak
       
                  
 Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Mencecap hidup bertentu tuju
Dalam sajak ini penyair  mula-mula menggambarkan gerak-gerak alam  atau gejala  pergerakan alam dengan memberikan  pembayang  terhadap kehadiran rahasia Tuhan dan keluarbiasaan keindahan-Nya. Camar yang  menepis  buih,  bakau yang mengurai  puncak,  ubur  yang terkembang,   warna  keemasan  air  laut  dan   pelangi   yang memabukkan elang 10sehingga burung ini leka (fana)  -- semua  itu memberi   gambaran  bahwa  gejala-gejala   alam   membayangkan keindahan Sang Pencipta.  Ungkapan-ungkapan seperti 'mengurai puncak', 'berjulang datang', 'mengempas emas', 'memuncak sunyi', 'sayap tergulung' dan  lain-lain mengisyaratkan bahwa keindahan  yang  berbagai-bagai  di alam syahadah ini sebenarnya merupakan  tangga  naik  menuju  Yang  Hakiki. Keindahan Yang Satu, yang tampak di  alam syahadah  dan  hadir  sebagai  ayat-ayatNya,  dapat   membawa pembaca merasa rindu, leka (fana'), takjub,  gharib  (asing), mabuk (sukr) dan hanyut dalam keindahan dan kebesaran-Nya. Memang  kerinduan para penulis Melayu  adalah  mencapai semacam   keadaan  fana',  leka,  lampus  atau  hanyut   dalam keindahan  Yang  Satu. Setelah fana ia akan  kudus  dan  baqa' (hidup   kekal)  dalam  Yang  Abadi:  "Ingin   datang   merasa sentosa/Mencecap hidup bertentu tuju". Ini bukan eskapisme dan bukan  kefanaan yang menimbulkan kepasifan buta, tetapi  suatu pencerahan yang menimbulkan gairah ketuhanan. Pada  gilirannya gairah  ketuhanan,  yang  disebut Rumi  sebagai  `isyq  (cinta berahi), menumbuhkan sikap moral dan pandangan kerohanian yang positif, di samping keteguhan pribadi dan rasa percaya diri.
Puisi Sebagai Suluk
Sekarang marilah saya tutup pembahasan ini dengan memaparkan konsep penulis sufi
yang memandang sastra/seni sebagai suluk atau jalan keruhanian. Saya akan mengambil
contoh Syair Perahu:
Inilah gerangan suatu madah
Mengarangkan syair terlalu indah
Membetuli jalan tempat berpindah
Di sanalah i’tiqad diperbaiki sudah
Wahai muda kenali dirimu
Ialah perahu tamsil tubuhmu
Tiada berapa lama hidupmu
Ke akhirat jua kekal diammu
Hai muda kenali dirimu
Hasilkan kemudi dengan pedoman
Alat perahumu jua kerjakan
Itulah jalan membetuli insan
Perteguh jua alat perahumu
Hasilkan bekal air dan kayu
Dayung pengayuh taruh di situ
Supaya laju perahumu itu
...11
La ilaha `illa Allah terlalu nyata
Tauhid makrifat semata-mata
Memandang yang gaib semuanya nyata
Lenyapkan ke sana sekalian kita
...
La ilaha `illa Allah tempat mengintai
Medan yang qadim tempat berdamai
Wujud Allah terlalu bitai
Siang malam jangan bercerai
La ilaha `illa Allah tempat musyahadah
Menyatakan tauhid jangan berubah
Sempurnakan jalan iman yang mudah
Pertemuan (dengan) Tuhan terlalu susah
                          (Doorenbos 1933:35)
Dari syair ini dapat dicatat setidak-tidaknya:  Pertama,  puisi merupakan jalan berpindah ke alam ketuhanan atau transendental.Tujuan penyair ialah memandang yang gaib (musyahadah) melalui jalan tauhid dan makrifat. Dengan demikian puisi dapat dikatakan sebagai sarana transendensi atau pembebasan jiwa dari kungkungan alam kebendaan (tajarrud).  Kedua,  puisi yang indah doitulis setelah penyair melakukan penyucian diri, yaitu membetulkan iktiqad.  Ketiga,  puisi juga merupakan perluasan zikir terhadap Allah (zikr Allah), yang  dengan cara demikian seseorang mencapai musyahadah.Makrifat dan pencerahan kalbu adalah bentuk pengalaman estetis yang tinggi, yang hanya dapat dicapai melalu jalan zikr Allah. Keempat, penyair juga menyatakan bahwa keindahan wajah Tuhan dan hakikat Tauhid hanya bisa diaksikan di ’medan yang qadim’, yaitu di alam metafisik atau ketuhanan. Medan yang qadim dalam jiwa manusia mengambil tempat dalam kalbu. Para sufi menyatakan bahwa kalbu merupakan rahasia Tuhan (sirr Allah) dalam arti dalam kalbulah manusia bisa berdialog dengan Yang Maha Gaib. Itulah sebabnya dalam proses penyucian diri, kalbu mesti dikosongkan dari yang selain Tuhan. Kelima, penyair mengharap pembaca menjadikan puisi sebagai tangga naik menuju hakikat dirinya yang sejati. Perjalanan ruhani seorang ahli suluk di sini diamsilkan sebagai pelayaran perahu dan perlengkapannya, sedangkan perahu alam tamsil tubuh manusia yang dibekali perlengkapan ruhani. Terimakasih.


INTERNASIONAL SEMINAR
TEMA
Rediscovering the Treasures of Malay Culture
SUB TEMA
JAGAD  ESTETIKA SASTRA MELAYU
PENYAJI
Abdul Hadi W. M.
PENYELENGGARA
INSTITUT SENI INDONESIA PADANGPANJANG
         2012
Poskan Komentar